Laporan
Rapor Pendidikan, sebuah instrumen evaluasi dari Kementerian Pendidikan,
Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), dirancang untuk
memberikan gambaran tentang kondisi satuan pendidikan dan daerah di
Indonesia.
Data ini
menjadi landasan bagi perencanaan berbasis data, memastikan kebijakan yang
diambil tepat sasaran dan efektif. Meskipun laporan rapor pendidikan mencakup
berbagai aspek penting, ada beberapa informasi yang tidak termasuk. Memahami
hal ini penting agar interpretasi data menjadi lebih akurat.
Tujuan dan Komponen Utama Rapor Pendidikan
Sebelum membahas apa yang tidak termasuk, maka harus memahami terlebih dahulu apa yang menjadi itu Rapor Pendidikan. Tujuan utamanya adalah untuk mengukur capaian dan proses pembelajaran serta keamanan dan kebhinekaan di sekolah.
Laporan ini memberikan gambaran tentang kondisi sekolah dan daerah, yang kemudian digunakan untuk menemukan masalah dan menyusun program perbaikan yang terukur. Secara umum, Rapor Pendidikan mencakup beberapa komponen yang terbagi dalam dua unsur utama:
Capaian Hasil Belajar (Output):
- Literasi dan Numerasi:
Mengukur kemampuan siswa dalam memahami teks (literasi) dan mengolah angka
(numerasi).
- Karakter: Mengukur aspek
non-kognitif, seperti profil pelajar Pancasila.
Proses Pembelajaran dan Iklim Sekolah (Input & Proses):
- Kualitas Pembelajaran: Menilai
seberapa efektif praktik pembelajaran di kelas.
- Iklim Keamanan Sekolah: Mengukur
sejauh mana sekolah bebas dari perundungan, kekerasan, dan diskriminasi.
- Iklim Kebinekaan: Menilai
praktik toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan di lingkungan
sekolah.
- Iklim Kesetaraan Gender:
Mengukur tingkat kesetaraan dan keadilan antara laki-laki dan perempuan di
sekolah.
Semua data bersumber dari berbagai instrumen, seperti Asesmen Nasional (AN), Survei Lingkungan Belajar (Sulingjar), dan data lain yang sesuai dari Dapodik (Data Pokok Pendidikan).
Informasi yang Tidak Tercantum dalam Rapor Pendidikan
Meskipun
Rapor Pendidikan bisa memuat laporan, ada beberapa informasi yang secara
struktural tidak dimasukkan. Rapor Pendidikan tidak mencakup laporan tentang
kondisi finansial sekolah atau laporan keuangan yang terperinci.
Anggaran dan Penggunaan Dana Sekolah
Rapor
Pendidikan tidak menyediakan rincian tentang berapa banyak dana yang diterima
sekolah dari berbagai sumber (misalnya, Bantuan Operasional Sekolah atau BOS)
dan bagaimana dana dialokasikan. Informasi ini, meskipun penting untuk
akuntabilitas, berada di luar cakupan Rapor Pendidikan. Laporan keuangan
memiliki mekanisme pelaporan tersendiri yang diatur dalam regulasi terpisah.
Identitas Individual Guru dan Siswa
Rapor
Pendidikan dirancang untuk melindungi privasi. Oleh karena itu, data yang
disajikan selalu dalam bentuk agregat atau ringkasan, tidak merinci hasil tes
atau kinerja individual guru atau siswa. Data yang ada bersifat anonim untuk
memastikan bahwa evaluasi fokus pada sistem secara keseluruhan, bukan pada
individu.
Catatan Kedisiplinan Siswa Secara Personal
Meskipun
situasi keamanan sekolah diukur, Rapor Pendidikan tidak memuat catatan
kedisiplinan setiap siswa, seperti jumlah pelanggaran atau sanksi yang
diterima. Data ini bersifat internal sekolah dan tidak dipublikasikan dalam
laporan publik.
Data Spesifik Mengenai Fasilitas Sarana dan Prasarana
Meskipun
Rapor Pendidikan dapat menunjukkan korelasi antara ketersediaan fasilitas dan
hasil belajar, tetapi tidak memberikan inventarisasi tentang kondisi spesifik
setiap fasilitas, seperti jumlah ruang kelas yang rusak, kondisi toilet, atau
ketersediaan laboratorium secara detail. Data ini ditemukan di sistem informasi
manajemen aset atau Dapodik, yang memiliki tujuan spesifik untuk pendataan aset
fisik.
Pentingnya Memahami Batasan
Dengan
menyadari bahwa Rapor Pendidikan tidak mencakup laporan keuangan, identitas
personal, atau data sarana-prasarana yang sangat rinci, pengguna data - baik
kepala sekolah, guru, dinas pendidikan, maupun masyarakat - dapat menghindari
kesalahan interpretasi.
Alih-alih
mencari detail keuangan, misalnya, Rapor Pendidikan harus digunakan untuk
mengidentifikasi area yang membutuhkan perbaikan dalam aspek pembelajaran
sekolah.
Sebagai
contoh, jika sebuah sekolah memiliki nilai literasi yang rendah, seperti
kurangnya dukungan bagi guru atau kualitas pembelajaran yang perlu
ditingkatkan. Namun, untuk menemukan solusi terkait pendanaan, kepala sekolah
harus merujuk pada laporan keuangan dan anggaran yang sesuai, bukan pada Rapor
Pendidikan.
Dengan demikian, Rapor Pendidikan harus dilihat sebagai bagian dari data pendidikan, di mana setiap instrumen memiliki peran dan batasan yang berbeda untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih baik.

