Penulisan sejarah kolonial sangat merugikan bangsa sebab …
a. Menulis
sejarah para penguasa
b. Memuat
perjuangan Diponegoro
c. Adanya
kronik dalam sejarah
d.
Merendahkan martabat bangsa
Jawaban: d. Merendahkan martabat bangsa
Sejarah merupakan cermin bagi suatu bangsa. Dari sejarah, kita dapat mengetahui identitas, memahami masa perjuangan, serta merumuskan arah masa depan. Namun, penulisan sejarah tidak selalu netral. Pada masa kolonial, sejarah ditulis oleh pihak penjajah dengan sudut pandang yang cenderung berpihak pada kepentingan.
Hal itu yang kemudian dikenal sebagai sejarah kolonial. Sayangnya, penulisan sejarah kolonial sangat merugikan bangsa Indonesia karena bukan hanya mengaburkan fakta, tetapi juga merendahkan martabat bangsa.
Karakteristik Penulisan Sejarah Kolonial
Sejarah kolonial bisa terjadi karena kepentingan politik penjajah. Beberapa ciri khas penulisannya antara lain:
- Berorientasi pada penguasa kolonial: tokoh utama yang ditonjolkan merupakan pejabat Belanda, perusahaan dagang VOC, dan tokoh Eropa lain.
- Mengaburkan peran bangsa pribumi: perjuangan rakyat Indonesia kerap disamarkan atau digambarkan negatif.
- Menggambarkan penjajah sebagai pembawa peradaban: kolonialisme digambarkan sebagai misi "pencerahan", padahal sejatinya eksploitasi.
- Menjadikan bangsa Indonesia sebagai objek pasif: rakyat hanya dilihat sebagai penerima dampak, bukan pelaku sejarah.
Dampak Penulisan Sejarah Kolonial
Mengapa penulisan sejarah kolonial begitu merugikan? Setidaknya terdapat beberapa dampak berikut ini:
Merendahkan martabat bangsa
Penjajah menggambarkan bangsa Indonesia sebagai masyarakat terbelakang, malas, dan tidak mampu mengatur diri sendiri. Hal itu bisa menjatuhkan harga diri bangsa dan menciptakan citra rendah di mata dunia internasional.
Menghapus nilai perjuangan
Perlawanan tokoh-tokoh besar seperti Diponegoro, Pattimura, atau Imam Bonjol sering dicap sebagai "pemberontakan" atau "gangguan keamanan". Padahal, para pahlawan merupakan pejuang kemerdekaan yang berusaha menegakkan kedaulatan bangsa.
Menciptakan warisan mental inferior
Penulisan sejarah yang bias membuat bangsa jajahan memandang dirinya lemah dan tidak mampu. Pandangan ini bisa menghambat tumbuhnya rasa percaya diri bangsa untuk bangkit melawan penjajahan.
Mewariskan pengetahuan sejarah yang timpang
Karena
sumber sejarah dikuasai kolonial, generasi selanjutnya mewarisi catatan sejarah
yang lebih memuliakan penjajah dibandingkan bangsa sendiri.
Kebangkitan Kesadaran Nasional
Meskipun
penuh dengan dampak negatif, penulisan sejarah kolonial pada akhirnya memicu
perlawanan intelektual. Para sejarawan, sastrawan, dan tokoh pergerakan
Indonesia mulai menyadari adanya ketidakadilan narasi tersebut. Tokoh seperti
Ki Hadjar Dewantara, Moh. Yamin, hingga Sartono Kartodirdjo kemudian
mengembangkan penulisan sejarah Indonesia dari perspektif bangsa sendiri.
Melalui historiografi nasional, sejarah perlawanan rakyat diangkat kembali sebagai perjuangan kemerdekaan, bukan sekadar pemberontakan. Penulisan ulang sejarah yang kemudian memperkuat kesadaran nasional dan menumbuhkan semangat kebangsaan.
Perbandingan dengan Pilihan Jawaban Lain
Dalam soal diatas, ada beberapa opsi yang perlu dijelaskan:
- a. Menulis sejarah para penguasa: Memang benar sejarah kolonial hanya fokus pada penguasa, tetapi bukan kerugian terbesar.
- b. Memuat perjuangan Diponegoro: Justru sebaliknya, perjuangan Diponegoro biasanya dikesampingkan atau dicap negatif.
- c. Adanya kronik dalam sejarah: Kronik hanyalah salah satu bentuk pencatatan, bukan sesuatu yang merugikan.
- d. Merendahkan martabat bangsa: Inilah jawaban paling tepat, karena sejarah kolonial merupakan propaganda untuk meneguhkan kekuasaan penjajah dengan meremehkan bangsa yang dijajah.
Penulisan sejarah kolonial merupakan salah satu bentuk penjajahan non-fisik yang dampaknya sangat panjang. Bukan hanya membelokkan fakta sejarah, tetapi juga menyerang harga diri bangsa dengan menggambarkan rakyat Indonesia sebagai pihak lemah, terbelakang, dan tidak mampu berdiri sendiri.
Oleh karena itu, tugas
sejarawan Indonesia setelah merdeka yaitu melakukan dekolonisasi sejarah, yakni
menulis ulang sejarah dengan perspektif bangsa sendiri agar martabat bangsa
kembali ditegakkan.

