Wawancara merupakan salah satu teknik penting dalam memperoleh informasi secara langsung dari narasumber yang kompeten. Dalam dunia pendidikan, penelitian, jurnalistik, maupun kegiatan pembelajaran berbasis proyek, wawancara juga digunakan sebagai sumber data utama. Oleh karena itu, keberhasilan wawancara tidak hanya ditentukan oleh kualitas pertanyaan, tetapi juga oleh adab atau etika pewawancara.
Terlebih lagi, ketika wawancara dilakukan pada waktu yang telah
disepakati bersama, pewawancara memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga
sikap dan perilaku yang mencerminkan rasa hormat serta profesionalisme.
Pentingnya Adab dalam Wawancara
Adab dalam
wawancara berfungsi sebagai landasan terciptanya komunikasi yang efektif dan
saling menghargai. Sikap yang santun akan membuat narasumber merasa nyaman,
terbuka, dan bersedia memberikan informasi secara jujur. Sebaliknya,
pewawancara yang mengabaikan adab dapat menimbulkan ketegangan, kesalahpahaman,
bahkan menurunkan kredibilitas hasil wawancara.
1. Menepati Waktu yang Telah Disepakati
Salah satu
adab paling mendasar dalam wawancara adalah datang tepat waktu. Ketepatan waktu
mencerminkan sikap disiplin dan penghargaan terhadap kesediaan narasumber
meluangkan waktunya. Apabila terjadi kendala yang tidak dapat dihindari,
pewawancara wajib menyampaikan pemberitahuan secara sopan dan jauh-jauh hari.
Datang terlambat tanpa alasan yang jelas dapat dianggap sebagai bentuk
ketidaksopanan dan kurangnya tanggung jawab.
2. Berpenampilan Sopan dan Rapi
Penampilan
juga menjadi bagian dari adab wawancara. Pewawancara sebaiknya mengenakan
pakaian yang sopan, rapi, dan sesuai dengan situasi. Penampilan yang baik akan
memberikan kesan positif serta menunjukkan kesungguhan dalam melakukan
wawancara. Hal ini penting terutama dalam wawancara formal, seperti dengan
tokoh masyarakat, pendidik, atau narasumber profesional.
3. Memberi Salam dan Memperkenalkan Diri
Sebelum
wawancara dimulai, pewawancara perlu memberi salam dan memperkenalkan diri
secara jelas, termasuk menyampaikan tujuan wawancara. Tindakan ini merupakan
bentuk etika dasar dalam berkomunikasi dan membantu membangun hubungan awal
yang baik antara pewawancara dan narasumber.
4. Menggunakan Bahasa yang Santun
Selama
wawancara berlangsung, pewawancara harus menggunakan bahasa yang santun, jelas,
dan mudah dipahami. Pertanyaan sebaiknya disampaikan dengan intonasi yang baik
dan tidak bersifat memaksa. Pewawancara juga harus menghindari penggunaan
kata-kata yang menyinggung perasaan atau mengandung unsur merendahkan
narasumber.
5. Mendengarkan dengan Penuh Perhatian
Adab penting
lainnya adalah mendengarkan jawaban narasumber dengan saksama. Pewawancara
tidak boleh memotong pembicaraan, menunjukkan sikap tidak sabar, atau terlihat
tidak fokus. Sikap menghargai ini akan mendorong narasumber untuk memberikan
penjelasan yang lebih lengkap dan mendalam.
6. Mengajukan Pertanyaan Secara Terarah dan Relevan
Pertanyaan
dalam wawancara harus disusun secara sistematis dan sesuai dengan tujuan.
Pewawancara perlu menghindari pertanyaan yang terlalu pribadi atau di luar
konteks, kecuali telah mendapatkan izin dari narasumber. Hal ini menunjukkan
bahwa pewawancara menghargai batasan dan privasi narasumber.
7. Menjaga Sikap Selama Wawancara
Selain
bahasa dan pertanyaan, sikap tubuh juga mencerminkan adab wawancara.
Pewawancara sebaiknya duduk dengan sopan, menjaga kontak mata secara wajar,
serta menunjukkan ekspresi yang ramah. Sikap ini akan menciptakan suasana
wawancara yang kondusif dan nyaman.
8. Menutup Wawancara dengan Sopan
Setelah wawancara selesai, pewawancara wajib mengucapkan terima kasih atas waktu dan informasi yang telah diberikan oleh narasumber. Apabila hasil wawancara akan digunakan untuk kepentingan tertentu, pewawancara juga sebaiknya menyampaikan hal tersebut secara jujur dan terbuka.
Dapat disimpulkan bahwa ketika melakukan wawancara di waktu yang telah disepakati, pewawancara harus memperhatikan adab sebagai bentuk penghormatan kepada narasumber. Adab seperti menepati waktu, bersikap sopan, menggunakan bahasa santun, serta menghargai pendapat narasumber akan menentukan keberhasilan wawancara.
Dengan menerapkan adab yang baik, wawancara tidak hanya menghasilkan
data yang akurat, tetapi juga mencerminkan karakter dan integritas pewawancara.

