Dalam
kegiatan wawancara baik untuk penulisan teks berita, laporan, artikel ilmiah,
maupun tugas pembelajaran menuliskan kata-kata yang diucapkan narasumber
merupakan tahap yang sangat penting. Ketepatan dalam menuliskan pernyataan
narasumber tidak hanya menentukan kualitas tulisan, tetapi juga menyangkut
keakuratan informasi, etika jurnalistik, serta tanggung jawab penulis terhadap
pembaca dan narasumber. Oleh karena itu, diperlukan cara dan prinsip yang benar
agar ucapan narasumber tersaji secara jelas, objektif, dan tidak menimbulkan
kesalahpahaman.
Pentingnya Menuliskan Ucapan Narasumber dengan Baik
Ucapan
narasumber adalah sumber utama informasi dalam wawancara. Kesalahan dalam
penulisan dapat mengubah makna, merugikan narasumber, bahkan menurunkan
kredibilitas penulis. Selain itu, penulisan yang baik akan membantu pembaca
memahami isi wawancara secara utuh, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Prinsip-Prinsip Dasar Penulisan Ucapan Narasumber
1. Akurat dan sesuai fakta
Prinsip utama dalam menuliskan ucapan narasumber adalah keakuratan. Penulis harus memastikan bahwa kata-kata yang ditulis benar-benar sesuai dengan yang diucapkan, terutama pada pernyataan penting. Jika menggunakan alat perekam, hasil rekaman sebaiknya diputar kembali untuk memastikan ketepatan isi.
2. Tidak mengubah makna pernyataan
Penulis boleh merapikan struktur kalimat agar lebih efektif dan mudah dipahami, namun tidak diperbolehkan mengubah maksud, penekanan, atau arah pernyataan narasumber. Setiap perubahan harus tetap menjaga substansi ucapan.
3. Objektif dan bebas opini pribadi
Ucapan
narasumber harus ditulis apa adanya tanpa dicampuri pendapat atau penilaian
pribadi penulis. Opini penulis hanya boleh disampaikan pada bagian analisis
atau kesimpulan, bukan dalam kutipan pernyataan.
Cara Menuliskan Ucapan Narasumber
1. Menggunakan Kutipan Langsung
Kutipan
langsung adalah penulisan pernyataan narasumber persis seperti yang diucapkan,
dan ditulis jika pernyataan tersebut penting, menarik, atau memiliki informasi
penting.
Ciri-ciri kutipan langsung:
- Menggunakan tanda petik (“…”)
- Bahasa mengikuti ucapan narasumber
- Disertai keterangan narasumber
Contoh:
- “Pembelajaran yang efektif hanya dapat terwujud apabila guru mampu memahami kebutuhan murid,” ujar Kepala Sekolah.
Kutipan
langsung sebaiknya tidak digunakan terlalu sering agar tulisan tidak terasa
kaku dan monoton.
2. Menggunakan Kutipan Tidak Langsung
Kutipan
tidak langsung adalah penulisan kembali pernyataan narasumber dengan bahasa
penulis sendiri, tetapi artinyanya tetap sama. Cara ini cocok digunakan untuk
pernyataan yang panjang atau bersifat penjelasan umum.
Contoh:
Kepala
Sekolah menjelaskan bahwa pemahaman guru terhadap kebutuhan murid sangat
menentukan keberhasilan pembelajaran.
3. Menyederhanakan Bahasa Lisan
Ucapan lisan bisa saja tidak efektif jika dituliskan apa adanya. Oleh karena itu, penulis diperbolehkan menyederhanakan bahasa dengan cara:
- Menghilangkan pengulangan kata
- Merapikan susunan kalimat
- Menghapus kata pengisi seperti “eee”, “anu”, atau “ya”
Namun,
penyederhanaan ini tidak boleh menghilangkan isi pokok pernyataan.
4. Menyertakan Identitas dan Konteks Narasumber
Agar pernyataan memiliki kejelasan dan kekuatan informasi, penulis perlu mencantumkan identitas narasumber, seperti nama, jabatan, atau perannya.
Contoh:
- Menurut Budi Santoso, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, keterampilan berbicara perlu dilatih secara berkelanjutan.
Konteks juga
penting agar pembaca memahami latar belakang pernyataan tersebut disampaikan.
5. Menggunakan Tanda Baca dan Ejaan yang Tepat
Penggunaan
tanda baca, huruf kapital, dan ejaan yang benar akan membuat kutipan lebih
jelas dan profesional. Kesalahan tanda baca dapat menimbulkan salah tafsir
terhadap maksud narasumber.
Etika dalam Menuliskan Ucapan Narasumber
Menuliskan ucapan narasumber tidak hanya soal teknik, tetapi juga menyangkut etika. Penulis wajib:
- Tidak memotong pernyataan sehingga menyesatkan
- Tidak mengutip di luar konteks
- Tidak memanipulasi ucapan untuk kepentingan tertentu
Etika ini penting untuk menjaga kepercayaan antara penulis, narasumber, dan pembaca.
Menuliskan
kata-kata yang diucapkan narasumber dengan baik memerlukan ketelitian,
kejujuran, dan pemahaman terhadap kaidah bahasa. Dengan menerapkan prinsip
akurasi, objektivitas, serta etika penulisan, hasil wawancara akan menjadi
sumber informasi yang jelas, terpercaya, dan bernilai. Keterampilan ini sangat
penting bagi pelajar, guru, jurnalis, maupun siapa pun yang terlibat dalam
kegiatan pengumpulan dan penyajian informasi.

