Ketika
melakukan wawancara kita terkadang masih terbatas pada pengetahuan yang berasal
dari sudut pandang sendiri. Pandangan bisa dipengaruhi oleh latar belakang
keluarga, lingkungan sosial, maupun pengalaman pribadi. Namun berusaha memahami
orang lain seperti mendengar atau membaca saja tidak cukup.
Wawancara merupakan proses dialogis yang melibatkan empati, keterampilan mendengarkan, dan kemampuan menggali informasi dengan cara yang tepat. Dalam penelitian kualitatif, wawancara menjadi instrumen utama untuk memahami fenomena sosial dari perspektif partisipan.
Menurut Norman K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln, dua
tokoh terkemuka dalam metodologi penelitian kualitatif, wawancara adalah sarana
untuk “merekonstruksi realitas sosial melalui pendapat partisipan.”
Mengapa Wawancara dapat Membantu Memahami sudut pandang Orang lain
Ketika seseorang diwawancarai dengan diajak untuk menceritakan pengalaman hidupnya dengan lebih terstruktur dan reflektif. Selain itu, wawancara melatih pewawancara untuk menunda penilaian. Proses ini menuntuta untuk mendengar dengan sungguh-sungguh, tanpa buru-buru menginterupsi atau mengkonfirmasi prasangka.
Hal ini selaras dengan konsep active listening yang dikemukakan oleh psikolog Carl Rogers. Menurut Rogers, mendengar secara aktif merupakan kunci untuk membangun hubungan empatik, karena hanya dengan itu seseorang dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain.
Wawancara sebagai Cara Menemukan Perspektif Baru
Di lingkup akademis, wawancara bisa digunakan dalam studi antropologi, sosiologi, hingga pendidikan. Clifford Geertz, antropolog terkemuka, dalam karyanya The Interpretation of Cultures menjelaskan pentingnya “thick description” yaitu deskripsi tentang suatu praktik budaya dari perspektif pelakunya sendiri.
Wawancara, dalam hal ini, bukan hanya pengumpulan informasi, melainkan usaha
untuk memahami cara orang lain memandang sesuatu hal.
Ambil contoh penelitian tentang komunitas lokal di Indonesia yang dilakukan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, kini BRIN). Melalui wawancara etnografis, peneliti menemukan bahwa praktik gotong royong bukan hanya aktivitas kerja bersama, tetapi terdapat makna simbolis tentang solidaritas, identitas, dan rasa memiliki.
Dimensi Etis dalam Proses Wawancara
Namun, memahami orang lain lewat wawancara tidak bisa dilepaskan dari aspek etika. Pewawancara tidak boleh serampangan mencari informasi, tetapi juga menghormati hak narasumber. Kode Etik Jurnalistik Dewan Pers Indonesia menegaskan bahwa setiap jurnalis wajib menghormati kehidupan pribadi narasumber dan menjaga kerahasiaan bila diminta.
Hal serupa juga ditegaskan dalam penelitian ilmiah,
di mana kerahasiaan data dan persetujuan partisipan (informed consent) adalah
prinsip mutlak.
Mengabaikan etika wawancara bisa menimbulkan pelanggaran, bahkan ketidakadilan. Banyak kasus di mana kutipan narasumber diubah untuk kepentingan tertentu, sehingga merusak kepercayaan publik.
Oleh karena itu, wawancara merupakan pertemuan yang menuntut kejujuran dan tanggung jawab, baik dari pewawancara maupun yang diwawancarai.
Wawancara dalam Konteks Sosial Kontemporer
Di era digital, wawancara berkembang dalam bentuk baru yaitu podcast, vlog, atau siaran langsung media sosial. Format ini membuat wawancara tidak hanya menjadi metode pengumpulan data, tetapi juga sarana informasi pengetahuan yang bisa diakses publik.
Program seperti TED Talks atau BBC HardTalk telah
memperlihatkan bagaimana wawancara mampu mempertemukan beragam perspektif mulai
dari ilmuwan, seniman, hingga politisi.
Di Indonesia sendiri, program seperti Mata Najwa membuktikan bahwa wawancara bisa menjadi ruang demokratis untuk mempertemukan pandangan berbeda, mengungkap kebenaran, sekaligus meningkatkan pemahaman publik tentang isu-isu sosial dan politik.
Wawancara,
pada akhirnya merupakan keberanian untuk mendengar dan keinginan untuk
memahami. Melalui wawancara, seseorang bisa memahami bahwa pengalaman orang
lain, betapapun berbeda, memiliki maksud tersendiri.

