Pada setiap
penelitian yang berawal dari pertanyaan mendasar, selalu ada kebutuhan untuk
membuktikan kebenaran sementara yang disebut hipotesis. Hipotesis, sebagaimana
ditegaskan oleh Kerlinger dalam karyanya Foundations of Behavioral Research,
merupakan jawaban sementara yang dirumuskan berdasarkan teori maupun pengamatan
awal, tetapi masih memerlukan verifikasi melalui data lapangan.
Dalam hal
ini, wawancara menjadi metode pengumpulan data untuk memperoleh asumsi, maupun
gejala sosial yang sedang diteliti.
Hipotesis sebagai Titik Awal Penelusuran
Namun,
bagaimana sebuah hipotesis diuji atau divalidasi? Tidak semua pertanyaan
penelitian dapat dijawab melalui survei kuantitatif atau analisis statistik.
Banyak aspek bersifat persepsi, motivasi, atau pengalaman subjektif yang hanya
bisa dicari melalui percakapan wawancara.
Wawancara sebagai Instrumen Validasi
Wawancara, menurut definisi Patton, merupakan upaya untuk mendapatkan pemahaman dari perspektif orang yang diwawancarai. Dengan kata lain, wawancara memberikan suara pada pihak-pihak yang terkait langsung dengan fenomena yang diteliti. Dalam memvalidasi atau menguji hipotesis, wawancara memiliki beberapa fungsi yaitu:
Mengonfirmasi Kebenaran Asumsi Awal
Misalnya, ketika hipotesis menyatakan bahwa rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam program kesehatan dipengaruhi oleh minimnya sosialisasi, wawancara dapat memperlihatkan apakah asumsi benar-benar terjadi atau justru ada faktor lain seperti kepercayaan budaya atau keterbatasan ekonomi.
Mencari Data yang Tidak Terjangkau
Statistik mampu menunjukkan kecenderungan, tetapi wawancara menghadirkan konteks. Data kuantitatif mencatat bahwa hanya 40% warga mengikuti vaksinasi, tetapi wawancara dapat menjelaskan alasan pribadi seperti rasa takut, berita bohong yang beredar, atau pengalaman buruk sebelumnya.
Menguji Konsistensi dan Kontradiksi
Wawancara memungkinkan peneliti membandingkan antara jawaban dengan dugaan awal. Jika terdapat kontradiksi, hal tersebut menjadi bahan refleksi untuk memperkuat atau bahkan menolak hipotesis.
Mencari Data Baru
Dalam banyak
penelitian, wawancara tidak hanya menguji hipotesis, tetapi juga memunculkan
temuan baru yang sebelumnya tidak terbayangkan peneliti. Hal ini sesuai dengan
gagasan Strauss dan Corbin bahwa penelitian kualitatif bisa menghasilkan teori
baru yang berawal dari pengalaman partisipan.
Perspektif Antara Objektivitas dan Subjektivitas
Data yang
diperoleh sangat dipengaruhi oleh keterampilan pewawancara, cara bertanya,
bahkan relasiantara peneliti dan narasumber. Kvale menyebut wawancara sebagai
“interview as a construction site of knowledge” artinya, informasi berasal dari
hasil konstruksi bersama. Tentu penting bersikap kritis sebagai peneliti tidak
boleh asal menerima setiap pernyataan, melainkan harus mengaitkannya dengan
bukti lain.
Hasil Validasi Hipotesis di Lapangan
Contoh dapat
dilihat pada penelitian World Health Organization terkait vaksinasi di Asia
Tenggara. Hipotesis awal menyebutkan bahwa rendahnya partisipasi masyarakat
lebih dipengaruhi oleh akses logistik. Namun, hasil wawancara dengan warga,
tenaga kesehatan, dan tokoh masyarakat justru menunjukkan bahwa faktor utama
yaitu misinformasi di media sosial dan kepercayaan lokal.
Mengapa Wawancara Bisa memvalidasi
Ketika sebuah hipotesis diuji, tujuan utamanya bukan hanya memastikan kebenaran. Wawancara memungkinkan peneliti:
- Mendekati pengalaman nyata responden.
- Memperoleh informasi yang lebih personal, dan kontekstual.
- Menyempurnakan atau bahkan merevisi hipotesis agar lebih sesuai dengan kenyataan.
Dengan demikian, wawancara tidak hanya berperan sebagai instrumen teknis, melainkan juga sebagai proses reflektif agar meningkatkan pemahaman peneliti terhadap fenomena yang dikaji.
Melakukan
wawancara dalam rangka memvalidasi atau menguji hipotesis pada akhirnya
merupakan upaya menghubungkan teori dengan realita.

