Di ruang
tunggu sebuah perusahaan, puluhan kandidat duduk dengan wajah tegang. Sebagian
merapikan dasi, ada yang menatap layar ponsel untuk mengulang catatan,
sementara yang lain sekadar memainkan ujung jasnya. Wawancara kerja selalu
menjadi momen penentuan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kesan pertama
dipengaruhi oleh visual.
Princeton
University, melalui studi yang dipublikasikan dalam Psychological Science,
menemukan bahwa manusia mampu membentuk penilaian terhadap kompetensi seseorang
hanya dalam waktu kurang dari satu detik setelah melihat wajah. Artinya,
sebelum pertanyaan wawancara pertama diajukan, pewawancara bisa saja sudah
memiliki gambaran awal tentang kandidat.
Penampilan Sebagai Bahasa Nonverbal
Penampilan
bukan sekadar pakaian yang dikenakan, melainkan keseluruhan citra diri yaitu
kerapihan rambut, kebersihan sepatu, pilihan warna busana, hingga bahasa tubuh.
Dalam melakukan wawancara, hal ini menjelaskan mengapa kerapihan pakaian bisa
diasosiasikan dengan profesionalisme, atau mengapa sikap duduk yang tegap
dianggap menunjukkan rasa percaya diri.
Faktor Psikologis Dari Penampilan
Wawancara
kerja bukan hanya soal penilaian, tetapi juga kondisi psikologis kandidat.
Pakaian yang rapi dapat memengaruhi rasa percaya diri. Sebuah studi dari
Northwestern University yang diperkenalkan dengan istilah enclothed cognition
menemukan bahwa pakaian memiliki pengaruh terhadap performa seseorang. Peserta
penelitian yang mengenakan jas laboratorium, misalnya, menunjukkan peningkatan
perhatian dan ketelitian dibandingkan yang tidak mengenakannya.
Hal ini
menjelaskan mengapa kandidat yang tampil sesuai dengan standar profesional
perusahaan cenderung lebih mantap saat menjawab pertanyaan, karena penampilan
mempengaruhi identitas dan keyakinan diri.
Perspektif Dunia Kerja dan Industri
Dari sudut
pandang perusahaan, memperhatikan penampilan sebagai salah satu indikator
kesesuaian dengan budaya kerja. Misalnya, perusahaan finansial multinasional
seperti Goldman Sachs atau PwC masih menerapkan standar busana formal karena
berhubungan dengan citra kredibilitas. Sementara perusahaan teknologi seperti
Google atau Meta lebih longgar, tetapi tetap memperhatikan kerapihan dan
kebersihan sebagai bentuk respect terhadap proses.
Data dari
CareerBuilder (2017) menunjukkan bahwa 50% manajer HRD menyatakan bahwa
penampilan kandidat dapat menjadi faktor penentu kualifikasi. Bahkan, 75%
responden tidak mau melanjutkan proses rekrutmen jika kandidat datang dengan
pakaian yang dianggap tidak sesuai dengan standar perusahaan.
Kritik terhadap Budaya Menilai dari Penampilan
Sejumlah
pakar menilai bahwa hal ini bisa memicu diskriminasi berbasis gaya berpakaian,
etnisitas, atau preferensi personal. World Economic Forum mencatat bahwa bias
visual masih menjadi salah satu tantangan dalam rekrutmen, termasuk
diskriminasi terhadap rambut alami perempuan kulit hitam di Amerika Serikat,
atau stigma terhadap tato di negara konservatif.
Di
Indonesia, fenomena serupa juga terjadi. Penelitian LIPI (Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia) mengenai ketenagakerjaan menunjukkan bahwa stereotipe
terhadap penampilan kerap memengaruhi proses seleksi, meski tidak berhubungan
dengan kemampuan kerja. Hal ini menunjukkan perlunya perusahaan menyeimbangkan
antara penilaian objektif atas kompetensi dan kesan awal dari penampilan.
Keseimbangan antara Penampilan dan Substansi
Memperhatikan
penampilan bukan berarti memalsukan jati diri. Justru, hal itu mencerminkan
kemampuan adaptasi seseorang agar bersikap profesional. Penampilan dapat
dilihat sebagai strategic self-presentation, sebuah strategi sosial untuk
menyesuaikan diri dengan norma, tanpa mengabaikan autentisitas.
Memperhatikan
penampilan saat wawancara merupakan bagian dari strategi komunikasi yang
mencerminkan profesionalisme sekaligus menghormati proses seleksi.

