Sebelum melakukan wawancara kita harus membuat daftar ...
Jawaban:
Pertanyaan
Wawancara, dalam berbagai bentuknya, selalu menjadi salah satu instrumen dalam mencari informasi. Baik dalam penelitian akademik, jurnalisme, maupun proses rekrutmen di dunia kerja, wawancara yang mempertemukan narasumber dengan pencari informasi. Namun, satu hal yang terlupakan adalah bagaimana sebuah wawancara tidak pernah bisa dilakukan secara spontan tanpa persiapan.
Sebelum duduk berhadapan dengan narasumber, hal mendasar yang harus disusun adalah daftar pertanyaan. Tanpa adanya daftar pertanyaan, wawancara berisiko kehilangan arah, menjadi percakapan kosong, bahkan gagal menghasilkan informasi yang dibutuhkan. Karena itulah, daftar pertanyaan menentukan kualitas data yang akan diperoleh.
Mengapa Daftar Pertanyaan wawancara Penting
Penyusunan
daftar pertanyaan sebagai tahap penting dalam metodologi wawancara. Menurut
Robert K. Yin, seorang pakar metodologi penelitian sosial, pertanyaan wawancara
harus dirancang agar sesuai dengan tujuan penelitian. Tanpa perencanaan,
seorang pewawancara cenderung melakukan percakapan yang melebar dan tidak
menghasilkan temuan penting.
Dalam
jurnalisme, hal ini sudah lama disadari. The Poynter Institute, lembaga
pelatihan jurnalisme di Amerika Serikat, menyebutkan bahwa pewawancara yang
tidak memiliki daftar pertanyaan berisiko gagal mengonfirmasi fakta penting.
Narasi yang kemudian dipublikasikan pun bisa bias, tidak akurat, atau bahkan
menyesatkan.
Fungsi Daftar Pertanyaan dalam Wawancara
1. Menentukan Arah dan Fokus
Setiap wawancara memiliki tujuan berbeda. Dalam penelitian, pertanyaan diarahkan untuk menguji hipotesis atau menjawab rumusan masalah. Dalam dunia kerja, pertanyaan digunakan untuk menilai kompetensi dan kepribadian kandidat.
Sementara dalam jurnalisme, pertanyaan ditujukan untuk menemukan fakta, perspektif, atau bahkan sisi emosional dari narasumber. Daftar pertanyaan membantu pewawancara memetakan alur agar fokus wawancara tidak kabur.
2. Menghemat Waktu
Data dari Society for Human Resource Management (SHRM) menunjukkan bahwa rata-rata wawancara kerja berlangsung antara 30 hingga 45 menit. Tanpa daftar pertanyaan, waktu yang terbatas bisa terbuang hanya untuk percakapan pembuka yang tidak sesuai. Pertanyaan yang tersusun dengan sistematis memungkinkan pewawancara memanfaatkan waktu secara optimal.
3. Meningkatkan Kredibilitas
Seorang
pewawancara yang datang dengan daftar pertanyaan dianggap lebih profesional.
Narasumber akan merasa dihargai karena melihat bahwa lawan bicara telah
melakukan persiapan. Hal ini ditegaskan oleh Harvard Business Review (HBR),
yang menyatakan bahwa kualitas wawancara ditentukan bukan hanya oleh jawaban
narasumber, tetapi juga oleh seberapa baik pewawancara mengajukan pertanyaan.
Kualitas Pertanyaan dalam Wawancara
Namun,
membuat daftar pertanyaan bukan perkara menulis poin-poin sembarangan.
Pertanyaan harus disusun dengan strategi tertentu agar menghasilkan jawaban
yang kaya informasi.
Pertanyaan Terbuka vs. Pertanyaan Tertutup
Pertanyaan terbuka mendorong narasumber untuk menjelaskan dengan detail, sementara pertanyaan tertutup hanya menuntut jawaban singkat. Kombinasi keduanya menjadi strategi efektif.
Pertanyaan Probing
Pertanyaan Probing merupakan pertanyaan lanjutan yang setelah narasumber memberikan jawaban awal. Contohnya: “Bisa Anda ceritakan lebih detail tentang pengalaman tersebut?”
Urutan Pertanyaan
Pertanyaan harus disusun dari yang ringan ke yang berat, dari yang umum ke yang spesifik. Tujuannya yaitu membangun kenyamanan narasumber agar lebih terbuka ketika mengajukan pertanyaan sensitif.
Pertanyaan Netral
Pertanyaan
yang baik tidak boleh mengarahkan atau menunjukkan bias. Menurut American
Psychological Association (APA), pertanyaan yang memihak dapat mengubah cara
narasumber menjawab dan mengurangi validitas data.
Risiko Jika Tidak Membuat Daftar Pertanyaan
Mengabaikan penyusunan daftar pertanyaan bisa menimbulkan konsekuensi serius. Dalam penelitian, risiko utamanya adalah data yang dikumpulkan tidak dapat digunakan untuk menjawab hipotesis. Dalam dunia jurnalistik, wawancara tanpa arah dapat menghasilkan laporan yang tidak menambah nilai informasi bagi publik.
Bahkan
dalam rekrutmen, ketiadaan daftar pertanyaan bisa mengaburkan penilaian
terhadap kandidat, yang berakibat pada salah pilih dalam pengambilan keputusan.
Laporan
LinkedIn Talent Solutions mencatat bahwa 74% perusahaan yang gagal melakukan
proses wawancara akhirnya menghadapi masalah dalam kinerja karyawan yang
direkrut. Fakta ini menegaskan bahwa daftar pertanyaan bukan hanya aspek
teknis, tetapi juga menyangkut efektivitas strategi perusahaan.
Wawancara
yang berlandaskan pada daftar pertanyaan merupakan salah satu cara terbaik
untuk memastikan bahwa setiap kata yang tercatat menunjukkan profesionalisme
pewawancara.

