Perhatikan
pernyataan berikut:
1. Membuat
catatan yang berisi keterampilan spesifik yang perlu dikembangkan.
2.
Menentukan indikator turunan dari tujuan pembelajaran.
3. Membuat
pemetaan berdasarkan tingkat penguasaan murid.
Tahapan dalam menyusun lembar amatan adalah ...
A. 1-2-3
B. 1-3-2
C. 2-3-1
D. 2-1-3
E. 3-1-2
Jawaban: B. 1-3-2
Proses
evaluasi bukan hanya mengukur hasil akhir dari pembelajaran. Evaluasi kini bisa
sebagai strategi untuk memahami proses belajar peserta didik, dan salah satu
instrumen dalam pendekatan ini adalah lembar amatan. Namun, bagaimana tahapan
menyusun lembar amatan agar efektif dan sesuai sasaran?
Pertanyaan
mengenai urutan tahapan yang tepat dalam menyusun lembar amatan seperti dalam
pernyataan:
- Membuat catatan yang berisi keterampilan spesifik yang perlu dikembangkan.
- Menentukan indikator turunan dari tujuan pembelajaran.
- Membuat pemetaan berdasarkan tingkat penguasaan murid.
Memahami Setiap Tahapan
Tahap 1: Membuat Catatan tentang Keterampilan Spesifik
Langkah awal
dalam menyusun lembar amatan adalah menyusun catatan atau daftar keterampilan
yang perlu dikembangkan oleh murid. Mengapa ini menjadi tahap pertama? Karena
sebelum seorang pendidik dapat mengamati, maka harus tahu terlebih dahulu apa
yang harus diamati. Keterampilan ini merupakan turunan dari kompetensi atau
tujuan pembelajaran, namun secara teknis perlu dipecah dalam bentuk yang lebih
spesifik dan operasional.
Dalam
praktiknya, catatan tentang Keterampilan spesifik bisa mencakup contoh seperti:
“Mampu mengemukakan pendapat secara logis dalam diskusi kelompok”, atau “Mampu
menggunakan strategi pemecahan masalah dalam soal matematika”.
Tahap 2: Membuat Pemetaan Berdasarkan Tingkat Penguasaan Murid
Setelah
keterampilan diidentifikasi, barulah guru memetakan keterampilan berdasarkan
level penguasaan murid. Dengan melibatkan pengklasifikasian tingkatan
kompetensi, misalnya dalam skala: Belum Tampak – Mulai Tampak – Berkembang –
Berkembang Sesuai Harapan – Melampaui Harapan. Pemetaan ini menjadi pedoman
bagi guru dalam menilai seberapa jauh murid menunjukkan perkembangan
keterampilan.
Praktik
pemetaan seperti ini direkomendasikan oleh Kemendikbudristek dalam
dokumen-dokumen resmi seperti "Buku Panduan Pembelajaran dan Asesmen"
(Kemendikbudristek, 2021), di mana pendekatan asesmen formatif menekankan pada
keterlacakan perkembangan murid dari waktu ke waktu.
Tahap 3: Menentukan Indikator Turunan dari Tujuan Pembelajaran
Langkah
ketiga adalah menyusun indikator turunan dari tujuan pembelajaran. Pada tahap
ini, indikator berfungsi sebagai kriteria atau ukuran yang lebih konkret dari
keterampilan yang telah dicatat di awal. Namun, indikator turunan disusun
setelah guru mengetahu penguasaan keterampilan murid karena indikator perlu
disesuaikan agar dapat membedakan level capaian secara objektif.
Indikator
turunan dari tujuan pembelajaran memungkinkan guru untuk menilai tidak hanya
apakah murid “melakukan” sesuatu, tetapi juga bagaimana dan sejauh mana
melakukannya.
Mengapa Urutan B. (1-3-2) adalah Jawaban yang Paling Tepat
Melalui
penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa:
- Langkah pertama (1) adalah membuat catatan keterampilan, karena ini adalah dasar dari semua observasi yang akan dilakukan.
- Langkah kedua (3) adalah membuat pemetaan penguasaan murid, karena guru harus memahami capaian keterampilan sebelum menetapkan indikator penilaian.
- Langkah ketiga (2) barulah menyusun indikator turunan, yang diturunkan berdasarkan keterampilan dan level penguasaan.
Dengan
demikian, jawaban yang tepat adalah B. 1-3-2.
Perbandingan Pilihan Jawaban Lain
Berikut
penjelasan pilihan jawaban lain satu per satu:
A. 1-2-3
Jika
indikator disusun sebelum pemetaan tingkat penguasaan murid, maka indikator
menjadi tidak kontekstual. Tanpa mengetahui level penguasaan aktual murid,
indikator bisa terlalu tinggi atau terlalu rendah. Pendekatan ini mengabaikan
prinsip asesmen formatif yang berbasis bukti perkembangan.
C. 2-3-1
Menentukan
indikator sebagai langkah pertama justru membalikkan urutan evaluasi
pembelajaran. Guru seharusnya menempatkan indikator pada kebutuhan keterampilan
dan level penguasaan murid. Tanpa itu, indikator jadi tidak adaptif.
D. 2-1-3
Lagi-lagi,
mendahulukan indikator sebelum memahami keterampilan dan pemetaan capaian
berarti membuat instrumen evaluasi tanpa landasan.
E. 3-1-2
Melakukan
pemetaan penguasaan murid sebelum mengetahui keterampilan yang hendak
dikembangkan adalah kontradiktif. Apa yang ingin dipetakan bila keterampilannya
belum ditentukan?
Memahami
urutan yang tepat dengan mencatat keterampilan spesifik, memetakan tingkat
penguasaan, lalu menyusun indikator turunan, guru tidak hanya melakukan
asesmen, tetapi juga memahami antara potensi murid dan tujuan pembelajaran.
Jawaban yang
benar, berdasarkan penjelasan diatas adalah B. 1-3-2.