Target perilaku dalam pengembangan profesional pendidik, khususnya pada Platform Merdeka Mengajar (PMM) dan Penilaian Kinerja Guru (PKG), merupakan tolok ukur penting yang mencerminkan kualitas sikap, pola pikir, dan tindakan guru dalam menjalankan tugasnya.
Target perilaku tidak hanya dipahami sebagai tuntutan,
melainkan sebagai arah perubahan yang bertujuan meningkatkan kualitas
pembelajaran dan dampaknya terhadap murid. Oleh karena itu, mempelajari dan
mewujudkan target perilaku memerlukan upaya yang sadar, terencana, dan
berkelanjutan.
Langkah awal adalah memahami target perilaku. Guru perlu mengkaji makna, indikator, serta contoh dari setiap target perilaku yang ditetapkan. Pemahaman ini penting agar guru tidak menafsirkan target perilaku atau sekadar formalitas.
Dengan
pemahaman yang utuh, guru dapat memahami keterkaitan antara target perilaku
dengan proses pembelajaran sehari-hari, termasuk cara berinteraksi dengan
murid, merancang pembelajaran, dan mengambil keputusan pedagogis.
Upaya berikutnya adalah melakukan refleksi diri secara jujur dan berbasis tugas. Refleksi menjadi sarana untuk mengetahui kesenjangan antara kondisi aktual dengan perilaku ideal yang diharapkan. Guru menelaah kebiasaan mengajar, cara berkomunikasi dengan murid, serta respons terhadap tantangan pembelajaran.
Melalui refleksi, guru dapat menyadari bahwa sebagian tantangan pembelajaran
bersumber dari keterbatasan diri, seperti kurangnya variasi strategi mengajar,
keterampilan yang belum optimal, atau pengelolaan kelas yang perlu
ditingkatkan.
Selain refleksi, guru perlu menambah pemahaman melalui sumber belajar yang sesuai. Modul pembelajaran di PMM, panduan PKG, video proses baik, serta hasil riset pendidikan menjadi referensi penting untuk memperluas wawasan.
Dengan
mempelajari proses baik yang telah terbukti efektif, guru memperoleh gambaran
tentang bagaimana target perilaku dapat diwujudkan dalam konteks kelas yang
beragam. Proses ini membantu guru beralih dari pemahaman konseptual menuju
penerapan praktis.
Upaya penting lainnya adalah belajar secara kolaboratif melalui komunitas profesional. Diskusi dengan rekan sejawat, kegiatan komunitas belajar, observasi kelas, dan lesson study menjadi sarana bagi guru untuk saling berbagi pengalaman. Dengan bekerjasama guru dapat melihat sudut pandang lain,
memperoleh inspirasi strategi baru, serta memperkuat komitmen untuk berubah.
Lingkungan yang saling kerjasama juga membantu guru merasa didukung dalam
proses pengembangan diri, sehingga perubahan perilaku tidak terasa sebagai
beban tersendiri.
Agar pembelajaran target perilaku lebih terarah, guru perlu menyusun rencana aksi yang sederhana, realistis, dan terukur. Rencana aksi memuat langkah-langkah yang akan dilakukan, waktu pelaksanaan, serta indikator keberhasilan.
Misalnya,
guru merencanakan penerapan strategi pembelajaran diferensiasi dalam satu
materi tertentu dan mengevaluasi dampaknya terhadap keterlibatan murid.
Pendekatan bertahap ini memungkinkan perubahan perilaku berlangsung secara
konsisten.
Selanjutnya target perilaku harus terintegrasi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Guru secara sadar menerapkan sikap berpihak pada murid, terbuka terhadap kritik maupun saran, serta reflektif terhadap hasil pembelajaran.
Konsistensi dalam proses akan membentuk kebiasaan baru yang pada akhirnya menjadi bagian dari budaya profesional guru. Untuk memastikan efektivitas upaya tersebut, guru perlu mengumpulkan bukti dan data pendukung. Bukti dapat berupa catatan refleksi, hasil belajar murid, respon siswa, dokumentasi pembelajaran, maupun hasil observasi.
Data tersebut berfungsi sebagai bahan evaluasi terhadap sejauh mana target perilaku telah berdampak pada kualitas pembelajaran. Dengan pendekatan berbasis data, guru dapat menilai keberhasilan secara lebih akurat dan menghindari penilaian subjektif.
Pada
akhirnya, mempelajari target perilaku merupakan proses evaluasi dan perbaikan
berkelanjutan. Guru secara berkala meninjau kembali proses, menyesuaikan
strategi, dan menetapkan target pengembangan berikutnya.
Dengan upaya
yang terencana, reflektif, dan kolaboratif, target perilaku tidak hanya menjadi
indikator penilaian kinerja, tetapi terwujud dalam proses yang meningkatkan
kualitas pendidikan.

