Penulisan sejarah tradisional menjelaskan pada konsep

 

penulisan sejarah tradisional menjelaskan pada konsep

Penulisan sejarah tradisional menjelaskan pada konsep …

 

a. Loyalitas pada raja

b. Pengabdian kepada Tuhan

c. Pembelaan terhadap rakyat

d. Pembebasan penderitaan rakyat

e. Kesetiaan terhadap negara kebangsaan

 

Jawaban: a. Loyalitas pada raja

 

Dalam memandang sejarah, ada dua pendekatan yang berbeda yaitu sejarah tradisional dan sejarah modern. Sejarah tradisional, khususnya yang berkembang di wilayah Asia Tenggara, termasuk Nusantara, menjelaskan pada hubungan yang erat antara pengisahan peristiwa dan figur penguasa. Konsep yang mendasari penulisan sejarah tradisional merupakan wujud loyalitas pada raja.

 

Sejarah tradisional tidak semata-mata mencatat peristiwa, tetapi juga menarasikan seluruh kisah dalam kerangka kepatuhan, kesetiaan, dan kehormatan terhadap penguasa. Dalam kisah kerajaan Jawa, misalnya, naskah-naskah seperti Babad Tanah Jawi atau Serat Centhini menampilkan raja sebagai pusat moral dan politik. 


Setiap tindakan, konflik, atau peristiwa penting selalu dikaitkan dengan figur raja, yang dianggap sebagai simbol kesatuan dan sumber legitimasi. Loyalitas kepada raja bukan hanya menjadi pengikat sosial, tetapi juga norma yang mengatur perilaku masyarakat.

 

Fenomena ini terlihat dari cara para penulis sejarah tradisional memosisikan peran rakyat dan pejabat kerajaan. Rakyat digambarkan sebagai pendukung setia, sementara keberhasilan atau kegagalan sebuah kerajaan selalu dihubungkan dengan kebijaksanaan raja. 


Dalam catatan sejarah tradisional di Aceh, Hikayat Aceh menjelaskan bagaimana kesetiaan kepada Sultan Aceh menentukan nasib kerajaan dalam menghadapi kolonialisme Portugis dan Belanda. Penulis sejarah tradisional menempatkan raja bukan sebagai penguasa, tetapi sebagai simbol keadilan, moralitas, dan keberlangsungan kerajaan.

 

Berbeda dengan sejarah modern yang menjelaskan analisis sebab-akibat, objektivitas, dan kepentingan rakyat, sejarah tradisional bersifat normatif. Nilai loyalitas pada raja dijadikan acuan moral dan politik. 


Dalam beberapa sumber, baik naskah kuno, prasasti, maupun lingkup istana, tindakan raja dipandang sebagai cerminan kehendak ilahi, sehingga pengabdian kepada raja sekaligus dianggap sebagai bentuk pengabdian spiritual.

 

Selain itu, penggunaan bahasa dalam penulisan sejarah tradisional juga diperlukan. Pilihan diksi yang tepat, simbolik, dan bersifat heroik bisa digunakan untuk menyanjung raja dan keluarganya. Misalnya, dalam Babad Diponegoro, setiap kemenangan atau upaya perjuangan Pangeran Diponegoro diilustrasikan dengan narasi yang menjelaskan ketaatan pasukan dan rakyat terhadap figur raja sebagai pemimpin yang sah.

 

Kritikus sejarah modern menjelaskan bahwa pendekatan ini memiliki keterbatasan. Karena menitikberatkan pada loyalitas kepada penguasa, ada fakta yang berkaitan dengan penderitaan rakyat, konflik internal, atau ketidakadilan sosial kurang mendapat perhatian. 


Namun, dari perspektif antropologis dan sosiologis, penekanan pada loyalitas menunjukkan bagaimana struktur politik dan budaya membentuk cara masyarakat memahami sejarah.

 

Data arsip sejarah, seperti prasasti kerajaan Majapahit, naskah lontar Bali, dan kronik Aceh, menunjukkan pola yang sama yaitu raja selalu digambarkan sebagai pusat pengaruh dan moralitas. Loyalitas rakyat terhadap raja bukan hanya dipandang sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai tanggung jawab spiritual yang harus dijaga. 


Bahkan interaksi diplomatik, perang, maupun perjanjian politik selalu diceritakan dengan menunjukkan kesetiaan atau pengkhianatan terhadap penguasa.

 

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa penulisan sejarah tradisional tidak hanya mengisahkan peristiwa, tetapi juga membentuk persepsi masyarakat tentang nilai, norma, dan hierarki sosial. 


Sejarah tradisional, dengan segala kekurangannya dalam perspektif modern, tetap menjadi saksi budaya yang menghubungkan masa lalu dengan identitas sosial dan politik masyarakat pada zamannya.

LihatTutupKomentar