Dalam sejarah yang dapat terjadi berulang kali adalah

 

dalam sejarah yang dapat terjadi berulang kali adalah

Dalam sejarah yang dapat terjadi berulang kali adalah ...

 

A. peristiwa

B. pola

C. waktu

D. tempat

E. pelaku

 

Jawaban: B. pola

 

Sejarah bisa dipahami sebagai catatan masa lalu yang hanya berfungsi untuk diingat. Bukan peristiwa persis yang kembali terjadi, melainkan pola-pola sosial, politik, dan ekonomi yang terus muncul dalam konteks berbeda.

 

Sejarah dan Konsep Pola

Sejarawan seperti Arnold J. Toynbee dan Ibn Khaldun menekankan bahwa peradaban memiliki siklus lahir, berkembang, jaya, lalu menurun. Pola ini terlihat di berbagai peradaban besar, dari Romawi, Dinasti Abbasiyah, hingga kerajaan di wilayah Nusantara.

 

Penting dipahami, yang berulang bukanlah peristiwa tunggal seperti jatuhnya Kerajaan Majapahit tidak akan terulang persis. Namun, pola kejatuhan akibat perebutan kekuasaan kerajaan, lemahnya ekonomi, dan serangan dari luar bisa berulang dalam kerajaan atau negara lain pada masa berbeda.

 

 

Contoh Pola dalam Sejarah Dunia

Pola Krisis Ekonomi

  • Depresi Besar 1929 di Amerika Serikat menunjukkan pola runtuhnya pasar akibat spekulasi berlebihan.
  • Pola serupa terlihat pada krisis finansial Asia 1997, ketika spekulasi mata uang dan lemahnya ekonomi memicu kejatuhan nilai tukar di Thailand, Indonesia, dan Korea Selatan.

 

Meskipun berbeda konteks, pola yang muncul tetap sama yaitu gelembung ekonomi → kepanikan → krisis → reformasi.

 

Pola Revolusi Sosial dan Politik

  • Revolusi Prancis (1789) dipicu oleh ketidakpuasan rakyat terhadap ketidakadilan sosial dan ekonomi.
  • Pola yang hampir identik terlihat dalam Revolusi Rusia (1917) dan berbagai gerakan rakyat di Asia maupun Afrika.

 

Unsur utamanya serupa yaitu ketidakpuasan → perlawanan → runtuhnya rezim lama → munculnya tatanan baru.

 

Pola Imperialisme dan Kolonialisme

Abad ke-16 hingga 19 ditandai oleh imperialisme Eropa, yang menguasai wilayah Asia, Afrika, dan Amerika. Pola ini berulang di abad modern dalam bentuk berbeda yaitu neokolonialisme ekonomi, di mana kekuatan global mengendalikan negara berkembang melalui hutang, investasi, dan perdagangan.

 

 

Contoh Pola dalam Sejarah Indonesia

Pola Pemberontakan terhadap Kekuasaan

  • Dari Perang Diponegoro (1825–1830) hingga pemberontakan petani Banten 1888, pola perlawanan rakyat terhadap penindasan kolonial terus berulang.
  • Setelah kemerdekaan, pola serupa terlihat dalam perlawanan terhadap rezim yang dianggap otoriter, misalnya gerakan mahasiswa 1966 dan 1998.

 

Pola Krisis Politik dan Transisi Kekuasaan

  • Kejatuhan Orde Lama (1966) dan Orde Baru (1998) memiliki pola yang hampir serupa yaitu krisis ekonomi → melemahnya legitimasi pemerintah → aksi massa → transisi kekuasaan.

Meskipun konteks berbeda, pola peristiwa tersebut menunjukkan bahwa legitimasi politik akan runtuh jika ekonomi gagal menjamin kesejahteraan rakyat.

 

Pola Bencana dan Respons Sosial

  • Nusantara sejak dulu sudah diguncang bencana alam, seperti letusan Gunung Tambora (1815) atau Gunung Krakatau (1883).
  • Pola yang berulang adalah dampak sosial-ekonomi yang besar, seperti kelaparan, migrasi, dan perubahan struktur masyarakat.
  • Pola juga terjadi lagi dalam tsunami Aceh 2004, di mana bencana bukan hanya persoalan alam, tetapi juga mengubah peta politik dan perdamaian di Aceh.

 

Mengapa Pola Sejarah Berulang?

Ada beberapa alasan utama:

  • Sifat dasar manusia: ambisi, perebutan kekuasaan, dan kebutuhan ekonomi cenderung menciptakan konflik yang serupa sepanjang masa.
  • Struktur sosial dan ekonomi: kesenjangan, ketidakadilan, dan krisis bisa menghasilkan pola reaksi yang berulang.
  • Lingkungan geografis: faktor alam seperti letusan gunung berapi, gempa, dan banjir selalu melahirkan pola masyarakat yang relatif sama.

 

Indonesia dan dunia tidak bisa lepas dari pola sejarah yaitu perebutan kekuasaan, krisis ekonomi, perlawanan rakyat, dan dampak bencana alam. Pertanyaannya, apakah kita hanya akan mengulang pola sejarah, ataukah bisa belajar untuk menciptakan sejarah baru yang lebih bijak?

LihatTutupKomentar