Berikut yang bukan termasuk kriteria pelajar Indonesia yang kreatif adalah …
a. Mampu
memikirkan alternatif solusi
b. Mampu
mempublikasikan gagasannya
c. Mampu
menghasilkan gagasan dan karya orisinal
d. Dapat
mengkombinasikan gagasan menjadi sesuatu yang baru
Jawaban: b. Mampu mempublikasikan gagasannya
Dalam sistem pendidikan nasional, kreativitas sebagai salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap pelajar. Hal ini selaras dengan Profil Pelajar Pancasila yang ditetapkan dalam kebijakan Merdeka Belajar oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Kreativitas diartikan sebagai kemampuan
berpikir bebas, tetapi juga keberanian menghasilkan gagasan baru yang
bermanfaat, orisinal, serta sesuai dengan konteks kehidupan. Namun
terdapat anggapan bahwa kemampuan
mempublikasikan gagasan adalah bagian dari ciri pelajar kreatif.
Padahal, kemampuan mempublikasikan gagasan lebih tepat dikategorikan sebagai keterampilan komunikasi atau literasi digital, bukan sebagai ukuran kreativitas. Oleh sebab itu, jika merujuk pada pertanyaan “Berikut yang bukan termasuk kriteria pelajar Indonesia yang kreatif adalah …”, maka jawaban yang paling tepat adalah b. Mampu mempublikasikan gagasannya.
Kreativitas dalam Pendidikan Nasional
Kreativitas, menurut UNESCO merupakan kemampuan untuk menggunakan imajinasi, pemikiran orisinal, dan pengetahuan guna menghasilkan ide-ide baru. Dalam pendidikan Indonesia, Profil Pelajar Pancasila menetapkan "Kreatif" sebagai salah satu dari enam dimensi utama yang harus diwujudkan dalam diri setiap pelajar. Kreatif diartikan sebagai "kemampuan menghasilkan gagasan, karya, dan tindakan orisinal, baik secara mandiri maupun kelompok, yang memiliki nilai tambah." Dengan hal ini, indikator pelajar kreatif meliputi:
Mampu memikirkan alternatif solusi
Seorang pelajar kreatif tidak berhenti pada satu jawaban. Tetapi harus mampu menimbang kemungkinan lain, menemukan jalan berbeda, serta menyusun opsi-opsi yang sesuai untuk menyelesaikan masalah.
Mampu menghasilkan gagasan dan karya orisinal
Gagasan dari proses berpikir mandiri juga mencerminkan kemampuan untuk keluar dari pola pikir klise.
Dapat mengombinasikan gagasan menjadi sesuatu yang baru
Kreativitas
muncul dari kemampuan melakukan sintesis. Pelajar yang kreatif bisa
menggabungkan ide-ide yang tidak berhubungan menjadi sebuah konsep inovatif
yang bernilai guna.
Ketiga poin di atas sejalan dengan kerangka pemikiran Guilford tentang divergent thinking yang menekankan pada kelancaran, keluwesan, orisinalitas, dan elaborasi sebagai aspek dasar kreativitas.
Dimana Letak Kekeliruannya ?
Jika
memahami opsi “Mampu mempublikasikan gagasannya”, sebenarnya hal ini bukan
bagian dari definisi kreativitas. Publikasi gagasan lebih tepat masuk ke dalam
ranah komunikasi ilmiah atau literasi digital. Dengan kata lain, seorang
pelajar bisa saja sangat kreatif, menghasilkan banyak ide brilian, namun belum
tentu memiliki keterampilan publikasi yang memadai.
Kemampuan mempublikasikan gagasan tentu penting, apalagi di era digital. Namun, keterampilan ini lebih terkait dengan diseminasi pengetahuan, bukan penciptaan pengetahuan. Dalam teori pendidikan Bloom’s Taxonomy revisi Anderson & Krathwohl, publikasi masuk pada ranah apply atau communicate, sedangkan kreativitas justru pada puncak kognisi, yakni create.
Relevansi dengan Dunia Pendidikan Indonesia
Pada praktik
pembelajaran di sekolah, kesalahpahaman ini juga terjadi. Tidak jarang
kreativitas diukur dengan seberapa baik siswa mempresentasikan karya atau
mempublikasikan ide di media sosial. Padahal, esensi kreativitas bukan pada
hasio, melainkan pada proses berpikir dan penciptaan gagasan.
Sebagai contoh, seorang siswa yang mampu merancang solusi alternatif untuk mengurangi limbah plastik di sekolah, kemudian membuat prototipe sederhana dari bahan daur ulang, sudah menunjukkan kreativitas meskipun tidak mempublikasikan di majalah dinding atau platform digital. Sebaliknya, siswa yang hanya mengunggah ulang karya orang lain dengan desain visual menarik, meskipun terlihat “aktif”, belum bisa disebut kreatif.
Dari uraian
di atas, jelas bahwa kreativitas dalam pendidikan Indonesia berakar pada
kemampuan berpikir orisinal, mencipta solusi baru, dan mengombinasikan ide
menjadi sesuatu yang bernilai. Indikator seperti mampu memikirkan alternatif
solusi, mampu menghasilkan gagasan orisinal, dan mampu mengombinasikan gagasan
baru termasuk kriteria pelajar indonesia yang kreatif.
Sementara
itu, mampu mempublikasikan gagasannya memang keterampilan yang perlu
dikembangkan, namun tidak termasuk dalam kriteria kreativitas. Dengan demikian,
jawaban atas pertanyaan “Berikut yang bukan termasuk kriteria pelajar Indonesia
yang kreatif adalah …” adalah B. Mampu mempublikasikan gagasannya.

