Dalam membuat pertanyaan refleksi yang dapat dijadikan sebagai acuan adalah ...
a. Fase
murid
b. Usia
murid
c. Pemahaman
murid
d. Pemahaman
guru
Jawaban: a. Fase murid
Pembelajaran
tidak lagi hanya diukur dari materi yang disampaikan guru, melainkan juga dari
seberapa murid mampu merefleksikan pengalaman belajarnya. Pertanyaan refleksi
menjadi salah satu instrumen penting untuk memicu kesadaran murid akan proses
yang sedang dijalani.
Namun,
sebuah pertanyaan refleksi tidak bisa dibuat secara sembarangan. Namun harus
dari pemahaman terhadap karakteristik peserta didik, dan fase perkembangan
murid menjadi acuan utama.
Mengapa Fase Murid Menjadi acuan
Fase murid
merujuk pada tahapan perkembangan kognitif, emosional, sosial, dan moral yang
sedang dijalani. Dalam konteks pendidikan Indonesia, pengelompokan fase murid
telah diatur dalam Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka, yang membagi peserta
didik dalam fase A hingga F, sesuai rentang usia dan kemampuan.
Misalnya,
murid pada fase A (kelas 1-2 SD) cenderung berpikir konkret dan membutuhkan
pertanyaan refleksi yang sederhana, lugas, dan berbasis pengalaman langsung.
Sebaliknya, fase D (SMA) memiliki kapasitas berpikir yang lebih matang,
sehingga mampu menjawab pertanyaan refleksi yang memerlukan, penalaran, atau
perenungan.
Dengan
memahami fase murid, guru dapat memastikan pertanyaan yang diajukan bukan hanya
dapat dijawab, tetapi juga sesuai dengan tingkat perkembangan berpikir murid.
Dinamika Pembuatan Pertanyaan Refleksi
Pembuatan
pertanyaan refleksi yang tepat memerlukan proses yang mirip dengan penyusunan
asesmen formatif, hanya saja lebih kepada aspek personal dan pengalaman
belajar. Prinsip dasarnya, menurut Brookfield dalam The Skillful Teacher,
adalah membangun koneksi antara pengalaman belajar dan persepsi setiap murid.
Artinya, pertanyaan harus memicu kesadaran akan apa yang telah dipelajari,
bagaimana proses berjalan, dan apa penerapannya.
Contoh penerapan berbasis fase:
- Fase A: "Bagian mana dari
pelajaran hari ini yang paling kamu sukai?"
- Fase C: "Bagaimana kamu
memecahkan tantangan yang muncul saat mengerjakan tugas tadi?"
- Fase E/F: "Bagaimana pengalaman belajar hari ini mengubah cara pandangmu terhadap topik yang kita bahas?"
Perbandingan dengan Pilihan Jawaban Lain
Untuk
memahami lebih lanjut penting untuk memahami pilihan jawaban lain dan mengapa
fase murid sebagai acuan utama.
b. Usia Murid
Usia memang
berkaitan dengan tahap perkembangan, tetapi bukan satu-satunya penentu
kemampuan berpikir. Dua murid dengan usia sama bisa berada pada tingkat
pemahaman berbeda karena faktor lingkungan, pengalaman, dan dukungan belajar.
Menggunakan usia berisiko membuat pertanyaan refleksi menjadi terlalu umum dan
tidak akurat dalam menyesuaikan tingkat pemahaman.
c. Pemahaman Murid
Menyesuaikan
pertanyaan refleksi dengan pemahaman murid terdengar logis, tetapi hal ini
merupakan hasil dari fase perkembangan, bukan tahap awal. Pemahaman juga
bersifat kontekstual, seorang murid bisa memahami topik tertentu namun
kesulitan pada topik lain. Fase murid lebih tepat untuk membangun pertanyaan
yang sesuai.
d. Pemahaman Guru
Pemahaman guru terhadap materi memang penting, namun jika pertanyaan refleksi disusun hanya berdasarkan sudut pandang guru. Guru mengajukan pertanyaan yang terlalu sulit atau tidak sesuai bagi murid jika tidak mempertimbangkan fase perkembangan setiap peserta didik.
Konteks Implementasi di Lapangan
Di
sekolah-sekolah yang telah menerapkan Kurikulum Merdeka, guru diharapkan mampu
merancang asesmen diagnostik di awal pembelajaran untuk memetakan fase murid.
Data ini kemudian menjadi acuan dalam membuat pertanyaan refleksi.
Pendekatan
ini terbukti meningkatkan kualitas jawaban murid, sebagaimana ditunjukkan dalam
laporan Pusat Asesmen Pendidikan Kemdikbudristek yang mencatat adanya
peningkatan kualitas refleksi murid sebesar 27% di sekolah yang konsisten
menggunakan acuan fase perkembangan.
Dengan menjadikan fase murid sebagai acuan, guru tidak hanya mengajukan pertanyaan yang bisa dijawab, tetapi juga pertanyaan yang mendorong murid memahami dirinya sebagai pembelajar, di tahap perkembangan yang sedang dijalani.

