Contoh penerapan asesmen dalam Kurikulum Merdeka yang tepat adalah ….
A. Bu Atikah
menggunakan nilai ulangan sebagai satu-satunya sumber penilaian untuk murid
B. Pak Jimi
melakukan penilaian sikap, keterampilan, dan pengetahuan secara terpisah di
kelas
C. Bu Linda
melakukan asesmen awal pembelajaran untuk membuat pemetaan kemampuan awal murid
di awal semester
D. Sekolah
menetapkan seluruh guru harus menggunakan tes tulis sebagai asesmen sumatif
Jawaban: C. Bu Linda melakukan asesmen awal pembelajaran untuk membuat pemetaan kemampuan awal murid di awal semester
Sistem pendidikan Indonesia kembali beradaptasi dengan Kurikulum Merdeka, sistem pembelajaran yang menekankan pada fleksibilitas, personalisasi, dan berpusat pada murid. Salah satu implementasi dalam kurikulum ini adalah asesmen, sebuah proses sistematis untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasikan informasi tentang kemajuan belajar peserta didik.
Namun, dalam praktiknya,
pemahaman yang keliru tentang asesmen dapat menghambat tujuan mulia Kurikulum
Merdeka. Lantas mengapa pilihan C, yaitu "Bu Linda melakukan asesmen awal
pembelajaran untuk membuat pemetaan kemampuan awal murid di awal semester"
adalah contoh penerapan asesmen yang paling tepat, dan mengapa opsi lainnya
justru kurang selaras dengan kurikulum merdeka.
Asesmen Pemetaan Sistem Belajar
Sebelum
memahami pilihan jawaban yang ada, penting untuk mengetahui asesmen dalam
Kurikulum Merdeka. Asesmen di sini bukan hanya untuk mengukur hasil akhir
belajar atau memberikan nilai. Tetapi, asesmen berfungsi sebagai bagian dari
proses pembelajaran yang merefleksikan sejauh mana murid telah mencapai tujuan
pembelajaran, dan pada saat yang sama, memberikan penilaian bagi guru untuk
merancang sitem yang lebih efektif.
Asesmen
diagnostik bertujuan untuk mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan siswa di
awal pembelajaran. Asesmen formatif dilakukan selama proses pembelajaran untuk
memantau kemajuan dan memberikan penilaian berkelanjutan. Sementara itu,
asesmen sumatif dilakukan di akhir periode pembelajaran untuk mengukur
pencapaian tujuan pembelajaran secara keseluruhan.
Membandingkan Pilihan yang Kurang Tepat
Mengapa
beberapa pilihan jawaban di antaranya tidak sejalan dengan semangat Kurikulum
Merdeka:
A. Bu Atikah menggunakan nilai ulangan sebagai satu-satunya sumber penilaian untuk murid
Pendekatan
Bu Atikah ini mencerminkan praktik penilaian konvensional yang lazim terjadi di
masa lalu, namun kini dianggap kurang komprehensif. Ulangan, khususnya yang
bersifat tertulis dan hanya mengukur aspek kognitif, gagal menangkap capaian
belajar murid dalam aspek keterampilan, sikap, atau bahkan proses berpikir.
Asesmen
perlu melibatkan berbagai metode seperti observasi, proyek, portofolio,
presentasi, dan asesmen diri, selain tes tertulis. Jika hanya berpatokan pada
ulangan, guru akan kehilangan gambaran utuh tentang potensi dan kebutuhan
setiap murid, yang pada akhirnya dapat menghambat personalisasi pembelajaran
yang menjadi ciri khas Kurikulum Merdeka.
B. Pak Jimi melakukan penilaian sikap, keterampilan, dan pengetahuan secara terpisah di kelas
Meskipun terlihat lebih baik daripada opsi A karena melibatkan aspek sikap, keterampilan, dan pengetahuan, pendekatan Pak Jimi yang melakukan penilaian secara terpisah cenderung kurang efektif dalam merefleksikan pembelajaran.
Dalam Kurikulum Merdeka, terdapat penekanan pada integrasi antara pengetahuan,
keterampilan, dan sikap. Sebagai contoh, seorang murid yang mengerjakan proyek
sains tidak hanya mengaplikasikan pengetahuannya tetapi juga mengembangkan
keterampilan kolaborasi dan menunjukkan sikap ilmiah.
Sumber-sumber
seperti buku panduan asesmen dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Pusbuk) juga
menganjurkan pendekatan asesmen yang lebih terintegrasi, di mana satu kegiatan
asesmen dapat mengevaluasi beberapa aspek sekaligus.
D. Sekolah menetapkan seluruh guru harus menggunakan tes tulis sebagai asesmen sumatif
Keputusan
sekolah yang mewajibkan tes tulis sebagai asesmen sumatif untuk semua guru
adalah praktik yang bertentangan dengan prinsip fleksibilitas dan diversifikasi
asesmen dalam Kurikulum Merdeka. Asesmen sumatif memang penting untuk mengukur
capaian akhir, namun harus disesuaikan dengan karakter mata pelajaran, tujuan
pembelajaran, dan gaya belajar murid.
Memaksakan
satu bentuk asesmen untuk semua akan membatasi ekspresi kemampuan murid dan
gagal memahami keberagaman kompetensi yang ingin dicapai.
Mengapa Pilihan C Benar
Sekarang
fokus pada pilihan C: "Bu Linda melakukan asesmen awal pembelajaran untuk
membuat pemetaan kemampuan awal murid di awal semester." Ini adalah narasi
tentang praktik terbaik yang selaras penuh dengan Kurikulum Merdeka.
Bu Linda,
seorang guru yang bersemangat mengawali semester baru. Beliau memahami bahwa
setiap murid yang masuk ke kelasnya adalah siswa dengan latar belakang,
pengalaman, dan tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Alih-alih langsung
"mengajar" materi dari buku, Bu Linda memulai dengan asesmen awal
pembelajaran, atau yang juga dikenal sebagai asesmen diagnostik.
Bu Linda
juga merancang beberapa aktivitas yang bervariasi seperti tugas singkat tentang
minat belajar murid, diskusi kelompok kecil untuk melihat bagaimana murid
berinteraksi dan mengemukakan ide, atau bahkan tugas sederhana yang menguji
pemahaman prasyarat untuk materi yang akan diajarkan. Misalnya, untuk pelajaran
matematika, beliau memberikan soal-soal dasar yang menguji pemahaman materi
tahun sebelumnya.
Dari hasil
asesmen tersebut, Bu Linda tidak hanya memberikan nilai, tetapi juga kemampuan awal setiap murid. Beliau bisa mengetahui siapa saja yang sudah
menguasai materi prasyarat, siapa yang masih memerlukan bimbingan ekstra, dan
siapa yang memiliki pemahaman yang keliru.
Asesmen awal
yang akurat memungkinkan guru untuk menjadi pengajar yang responsif,
menyesuaikan metode, materi, dan kecepatan sesuai dengan kebutuhan setiap
murid. Kurikulum Merdeka diterapkan sebagai kesempatan untuk memahami, bukan
hanya mengukur, dan Bu Linda telah menunjukkan cara yang benar.