Yang Lebih Penting dari Aku
“Diam saja
dari tadi. Baca terus, seperti yang paling pintar saja.”
“Iya. Kita
ini dianggap patung?”
“Bukan
patung, tapi angin.”
Mataku ke
arah buku yang kubaca, tetapi telingaku mendengar semuanya. Walau mereka
berbicara dengan suara rendah, suasana sunyi mengantarkan setiap bunyi dengan
setia.
Aku
benar-benar tidak ingin di sini. Terlihat orang dengan berbagai penampilan
mondar-mandir lantas duduk, lalu berdiri dalam diam. Wajah-wajah gundah dan
lelah membuatku tambah lemas. Kapan ini semua berakhir? Tengah malam begini,
seharusnya aku bisa duduk santai di rumah, baca, atau main game. Sejak sore,
aku ingin minta izin pulang. It’s impossible. Mustahil. Mana mungkin aku bisa
pulang saat seluruh keluarga berkumpul.
Aku kembali
membaca bukuku, tetapi tak satu pun kalimat kupahami. Suara-suara yang
menyindirku itu masih terdengar, kadang diselingi tawa. Aku cukup yakin, jika
aku mengangkat wajah, salah satu atau beberapa orang dari mereka sedang
melirikku. Aku tidak suka, tetapi mau bagaimana lagi? Walau tak kukenal dengan
baik, mereka semua terikat darah denganku.
This is it.
Cukup sudah. Aku tidak tahan lagi. Aku harus bicara. Akan kutegur mereka.
Seenaknya saja menggunjingkan orang yang ada di depannya. Kemarahan tiba-tiba
memenuhi dadaku. Aku berdiri sambil mengentakkan kaki. Derit nyaring kursi besi
tua membuat beberapa orang menoleh.
Bagaimana perasaan kalian ketika membaca cerita di atas ?
Setelah
membaca cerita “Yang Lebih Penting dari Aku”, perasaan yang paling kuat saya
rasakan adalah tidak nyaman, sedih, dan tertekan. Cerita ini membuat saya
seolah-olah berada di posisi tokoh “aku” yang harus duduk diam di tengah
keramaian, tetapi justru merasa tidak dianggap. Suasana cerita terasa sunyi,
dingin, dan penuh tekanan batin, meskipun di sekeliling tokoh terdapat banyak
orang.
Sejak awal
cerita, saya merasakan adanya sindiran dan ejekan halus yang ditujukan kepada
tokoh “aku”. Kalimat-kalimat seperti “Bukan patung, tapi angin” sangat
menyentuh perasaan saya sebagai pembaca. Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa
keberadaan tokoh seolah tidak memiliki arti apa pun. Hal ini menimbulkan rasa
iba, karena siapa pun tentu ingin dihargai, terlebih oleh orang-orang yang
masih memiliki hubungan keluarga.
Selain itu,
cerita ini juga menghadirkan rasa terasing di tengah keluarga sendiri. Tokoh
“aku” sebenarnya tidak melakukan kesalahan apa pun, tetapi tetap menjadi
sasaran gunjingan. Perasaan tersebut membuat saya ikut merasa lelah dan jenuh,
apalagi tokoh tidak memiliki pilihan untuk pergi karena situasi keluarga yang
mengharuskannya tetap bertahan. Kondisi tersebut terasa sangat realistis dan
dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Semakin ke
tengah cerita, emosi tokoh semakin menumpuk. Ia berusaha mengalihkan perhatian
dengan membaca buku, tetapi pikirannya tetap terganggu oleh suara-suara
sindiran. Hal ini membuat saya merasakan amarah yang dipendam, yaitu perasaan
kesal yang tidak bisa diungkapkan. Sebagai pembaca, saya dapat memahami dilema
tokoh: ingin membela diri, tetapi terhalang oleh norma, rasa sungkan, dan
ikatan keluarga.
Pada bagian
akhir cerita, ketika tokoh berdiri dan kursi besi berderit nyaring, saya
merasakan ketegangan sekaligus kelegaan. Ketegangan muncul karena saya
penasaran dengan apa yang akan dilakukan tokoh selanjutnya, sedangkan kelegaan
muncul karena akhirnya tokoh berani mengambil sikap. Adegan tersebut memberi
kesan bahwa tokoh tidak ingin lagi terus-menerus diam dan diperlakukan tidak
adil.
Secara
keseluruhan, cerita “Yang Lebih Penting dari Aku” membuat saya ikut merasakan
konflik batin tokoh utama. Cerita ini menyadarkan saya bahwa sikap, ucapan, dan
candaan yang dianggap sepele bisa melukai perasaan orang lain. Melalui cerita
ini, saya belajar pentingnya saling menghargai dan peka terhadap perasaan orang
di sekitar kita, terutama dalam lingkungan keluarga.

