Sadar tantangan dan penyebabnya berada di dalam kendali diri serta dampaknya
- Menjelaskan penyebab tantangan yang berasal dari kemampuan atau keterbatasan dirinya, bukan dari faktor eksternal.
- Menjelaskan dampak kualitas pembelajaran yang dirasakan murid disertai data, bukti lapangan, riset, atau rapor Pendidikan.
Apa
penjelasan Anda terhadap penilaian tersebut?
“Sadar
tantangan dan penyebabnya berada di dalam kendali diri serta dampaknya”
menekankan kemampuan reflektif pendidik dalam menilai kualitas pembelajaran
yang dilakukan, dengan fokus pada tanggung jawab profesional pribadi, bukan
menyalahkan faktor lain. Berikut penjelasan terstruktur terhadap penilaian
tersebut.
1. Kesadaran bahwa tantangan berasal dari diri sendiri
Penilaian
ini mengukur sejauh mana pendidik mampu mengetahui penyebab tantangan
pembelajaran yang bersumber dari kemampuan, keterbatasan, atau praktik pribadi,
seperti:
- Perencanaan pembelajaran yang belum optimal atau belum sepenuhnya berpihak pada murid.
- Strategi pembelajaran yang kurang variatif atau belum menyesuaikan karakteristik peserta didik.
- Pengelolaan kelas, waktu, atau asesmen yang masih perlu ditingkatkan.
- Keterbatasan penguasaan teknologi, metode diferensiasi, atau pendekatan pembelajaran aktif.
Tujuan dari
aspek ini adalah sikap reflektif dan bertanggung jawab, di mana pendidik tidak
menyandarkan tantangan pada faktor luar seperti fasilitas, latar belakang
murid, atau kebijakan, tetapi harus melakukan perbaikan dalam kompetensi diri.
2. Penjelasan dampak terhadap kualitas pembelajaran murid
Selain
menyadari penyebab, penilaian ini juga menuntut pendidik untuk menjelaskan
dampak dari tantangan tersebut terhadap pengalaman dan hasil belajar murid,
antara lain:
- Menurunnya keterlibatan aktif murid dalam pembelajaran.
- Pemahaman konsep yang tidak merata atau dangkal.
- Rendahnya capaian kompetensi tertentu.
- Kurangnya motivasi dan kemandirian belajar murid.
Dampak ini
tidak bersifat asumtif, tetapi harus didukung oleh data dan bukti, seperti:
- Hasil asesmen formatif dan sumatif.
- Observasi kelas dan catatan refleksi pembelajaran.
- Umpan balik murid.
Data pada
Rapor Pendidikan, hasil ANBK, atau temuan riset/hasil kajian pembelajaran
relevan.
3. Makna penilaian bagi profesionalisme pendidik
Secara
keseluruhan, penilaian ini mencerminkan tingkat kematangan profesional
pendidik, khususnya dalam:
- Berpikir reflektif dan kritis terhadap praktik mengajar.
- Mengambil tanggung jawab atas mutu pembelajaran.
- Menggunakan data sebagai dasar evaluasi dan perbaikan.
- Menunjukkan kesiapan untuk melakukan pengembangan diri berkelanjutan.
Dengan
demikian, penilaian ini bersifat mengapresiasi kejujuran refleksi dan komitmen
untuk memperbaiki kualitas pembelajaran demi peningkatan hasil belajar murid.
Contoh Refleksi PKG/PMM
Dalam
pelaksanaan pembelajaran, saya menyadari bahwa salah satu tantangan utama yang
saya hadapi berasal dari keterbatasan dalam menerapkan strategi pembelajaran
yang benar-benar berdiferensiasi sesuai kebutuhan murid. Pada beberapa
pertemuan, saya masih cenderung menggunakan metode yang sama, sehingga belum
sepenuhnya mengakomodasi perbedaan kemampuan, gaya belajar, dan kecepatan
belajar murid.
Keterbatasan
ini berdampak pada keterlibatan murid yang belum merata. Berdasarkan hasil
observasi kelas dan asesmen formatif, hanya sekitar 60–65% murid yang aktif
berpartisipasi dalam diskusi dan mampu menyelesaikan tugas sesuai target
pembelajaran. Sementara itu, sebagian murid lain masih mengalami kesulitan
memahami materi secara mendalam. Data ini juga diperkuat oleh hasil penilaian
harian, di mana masih terdapat murid yang belum mencapai Kriteria Ketercapaian
Tujuan Pembelajaran (KKTP).
Selain itu,
berdasarkan data pada Rapor Pendidikan, indikator literasi/numerasi di kelas
yang saya ampu menunjukkan capaian yang belum optimal dibandingkan rata-rata
satuan pendidikan. Hal ini menjadi refleksi bagi saya bahwa pendekatan
pembelajaran yang saya gunakan belum sepenuhnya efektif dalam mendorong
pemahaman materi dan kemampuan berpikir murid.
Melalui
refleksi ini, saya menyadari bahwa peningkatan kualitas pembelajaran harus
dimulai dari pengembangan kompetensi diri saya sendiri, khususnya dalam
merancang pembelajaran berdiferensiasi, memanfaatkan asesmen diagnostik secara
optimal, serta menerapkan strategi pembelajaran yang lebih aktif dan
kontekstual. Kesadaran ini menjadi pertimbangan bagi saya untuk melakukan
perbaikan berkelanjutan agar kualitas pembelajaran meningkat dan dapat
dirasakan oleh seluruh murid.

