Berikut ini yang termasuk kelemahan sejarah sebagai seni adalah ...
a. Kebeneran
bersifat objektif
b.
Penyusunan yang sistematis
c. Pemikiran
yang rasional
d.
Berkurangnya ketetapan
e. Memiliki
metode
Jawaban: d. Berkurangnya ketetapan
Sebagai seni, sejarawan bisa menafsirkan, menarasikan, dan menyajikan peristiwa masa lalu dengan daya imajinasi tertentu. Sehingga menambah sudut pandang pada penulisan sejarah, tetapi sekaligus menghadirkan persoalan yakni berkurangnya ketetapan kebenaran sejarah. Berikut pembahasan mengapa “berkurangnya ketetapan” menjadi kelemahan sejarah sebagai seni.
Sejarah sebagai Seni
Ketika dipandang sebagai seni, sejarah tidak sekadar menyajikan data faktual, melainkan juga mengandung unsur interpretasi dan sudut pandang penulis. Beberapa ciri sejarah sebagai seni, antara lain:
- Mengandalkan gaya narasi untuk menghidupkan kembali peristiwa masa lalu.
- Menggunakan imajinasi terbatas untuk mengisi kekosongan data yang tidak lengkap.
- Menekankan pada interpretasi yang bisa berbeda-beda antar sejarawan.
Dari sisi
sebagai seni, sejarah menjadi lebih menarik, mudah dipahami, dan menyentuh sisi
emosional pembaca. Namun, di sinilah letak kelemahan utama muncul.
Kelemahan Sejarah sebagai Seni
Kelemahan paling mendasar adalah berkurangnya ketetapan. Hal ini dapat dijelaskan melalui beberapa aspek berikut:
1. Subjektivitas Penulis
Ketika sejarawan menafsirkan sebuah peristiwa, maka tidak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari latar belakang, ideologi, dan nilai-nilai pribadi. Misalnya, dua sejarawan dapat menulis tentang peristiwa yang sama tetapi menghasilkan sudut pandang yang berbeda. Akibatnya, ketetapan fakta sejarah menjadi berkurang.
2. Narasi yang Bisa Dimanipulasi
Dalam rangka menyajikan sejarah agar menarik, sejarawan terkadang menggunakan gaya bahasa tertentu yang tidak sesuai fakta. Peristiwa yang sebenarnya sederhana dapat ditampilkan secara heroik, dramatis, atau bahkan dilebih-lebihkan.
3. Keterbatasan Sumber
Ketika sumber sejarah tidak lengkap, seni penulisan sejarah menjadikan sejarawan untuk “mengisi celah” dengan interpretasi. Walaupun berguna untuk melengkapi narasi, langkah ini membuat sejarah bisa kehilangan kepastian kebenaran.
4. Relativitas Kebenaran
Karena
adanya interpretasi, kebenaran sejarah yang ditulis dalam bentuk seni tidak
pernah objektif. Hal ini membuat ketetapan sejarah berkurang dan memunculkan
perdebatan di kalangan sejarawan.
Sejarah
sebagai seni memiliki keunggulan dalam menghadirkan masa lalu secara hidup dan
mengena di hati pembaca. Namun, kelemahan utamanya adalah berkurangnya
ketetapan, karena narasi sejarah dipengaruhi oleh subjektivitas penulis,
keterbatasan sumber, serta kecenderungan untuk memperindah kisah.
Oleh karena
itu, sejarawan idealnya tetap memegang teguh kaidah ilmiah dalam mengolah
fakta, sekaligus menggunakan seni penulisan untuk membuat sejarah lebih
menarik.
FAQ: Kelemahan Sejarah sebagai Seni
1. Apa yang dimaksud dengan sejarah sebagai seni?
Sejarah sebagai seni adalah pandangan bahwa sejarah tidak hanya menyajikan fakta-fakta, tetapi juga membutuhkan sentuhan imajinasi, gaya bahasa, dan penafsiran agar kisah masa lalu dapat disajikan lebih hidup, menarik, dan komunikatif.
2. Apa kelemahan utama sejarah sebagai seni?
Kelemahan utamanya adalah berkurangnya ketetapan. Hal ini karena interpretasi sejarawan bisa berbeda-beda, narasi dapat dipengaruhi subjektivitas, dan fakta sejarah terkadang diwarnai gaya penulisan yang dramatis.
3. Mengapa ketetapan sejarah bisa berkurang jika dipandang sebagai seni?
Karena sejarah dalam bentuk seni tidak sepenuhnya berpijak pada objektivitas. Sejarawan dapat menambahkan pendapat pribadi atau imajinasi untuk mengisi kekosongan data. Hal ini membuat kebenaran sejarah tidak lagi absolut, melainkan relatif.
4. Apakah sejarah sebagai seni selalu merugikan?
Tidak selalu. Seni dalam sejarah justru membantu menjadikan sejarah lebih mudah dipahami dan menarik bagi pembaca. Namun, jika unsur seni terlalu dominan, akurasi fakta bisa terabaikan.
5. Apa bedanya sejarah sebagai seni dengan sejarah sebagai ilmu?
- Sejarah sebagai ilmu: menekankan objektivitas, metode ilmiah, analisis rasional, dan ketelitian pada sumber.
- Sejarah sebagai seni: menekankan pada gaya penyajian, narasi, dan interpretasi untuk menghidupkan peristiwa bersejarah.
6. Bagaimana cara mengurangi kelemahan sejarah sebagai seni?
Dengan menyeimbangkan dua aspek namun tetap berpegang pada metode ilmiah dalam mengolah fakta, tetapi menggunakan seni penulisan untuk menyajikannya dengan menarik. Sejarawan ideal harus menjadi ilmuwan sekaligus seniman dalam penulisan sejarah.
7. Adakah contoh berkurangnya ketetapan sejarah akibat seni penulisan?
Ya. Misalnya, kisah Perang Diponegoro ditulis dengan gaya heroik sehingga lebih menekankan sisi perjuangan Diponegoro, sementara aspek sosial-ekonomi penyebab perang kadang terabaikan.
Demikian pula peristiwa 1965 di Indonesia, yang
memiliki banyak versi narasi karena dipengaruhi sudut pandang penulis dan
konteks politik pada zamannya.

