Proses sosialisasi yang pertama kali terbentuk terjadi pada lingkungan ...
a.
Lingkungan sekolah
b. Keluarga
c. Teman
sepermainan
d. Media
massa
e. Orang tua
Jawaban: b. Keluarga
Sosialisasi
merupakan proses di mana seseorang mempelajari norma, nilai, serta budaya yang
berlaku di dalam masyarakat. Sejak lahir, setiap manusia menjalani proses
bersosialisasi secara berkelanjutan untuk dapat menyesuaikan diri dan
berinteraksi dengan lingkungannya.
Namun,
pertanyaan penting yaitu, di manakah proses sosialisasi pertama kali terbentuk
? Sejak awal pertumbuhan seseorang, proses sosialisasi pertama kali terjadi di
lingkungan keluarga. Jawaban ini memiliki landasan yang didukung oleh berbagai
kajian ilmu sosial dan psikologi perkembangan manusia.
Sosialisasi di Lingkungan Keluarga
Keluarga adalah lingkungan pertama dan utama yang dihadapi seorang seseorang sejak ia dilahirkan. Di dalam keluarga, anak pertama kali belajar bagaimana berbicara, berperilaku, dan memahami berbagai aturan sosial yang kemudian membentuk sifat kepribadiannya.
Dari orang tua dan anggota keluarga lainnya, anak menerima
bimbingan tentang cara hidup, tata krama, dan bahkan etika moral. Keluarga
menjadi sumber utama nilai-nilai dasar, seperti cinta, kasih sayang, tanggung
jawab, dan penghargaan terhadap orang lain.
Bukan hanya dalam aspek moral dan nilai, keluarga juga berperan dalam pembentukan sikap emosional anak. Rasa aman, percaya diri, dan penghargaan diri yang positif biasanya diperoleh dari interaksi dengan anggota keluarga.
Ketika seorang anak merasa dicintai dan didukung di rumah, mereka akan lebih mudah beradaptasi dalam lingkungan yang lebih luas nantinya. Orang tua dan anggota keluarga yang lebih tua bukan hanya berperan sebagai figur kepemimpinan, tetapi juga menjadi model peran (role models) yang diikuti oleh anak.
Misalnya, cara seorang anak memperlakukan orang lain sering kali mencerminkan perilaku orang tuanya terhadap sesama. Oleh karena itu, peran keluarga dalam proses sosialisasi menjadi sangat mendasar dan mempengaruhi perkembangan karakter anak sepanjang hidupnya.
Lingkungan Lain dalam Proses Sosialisasi
Meski
keluarga merupakan lingkungan pertama dalam proses sosialisasi, tidak dapat
dipungkiri bahwa lingkungan lain juga memainkan peran penting. Namun, proses
sosialisasi di lingkungan berikut terjadi setelah dasar-dasar yang diajarkan
oleh keluarga sudah terbentuk.
(a. Lingkungan Sekolah)
Lingkungan
sekolah adalah lingkungan formal kedua setelah keluarga di mana anak mulai
mempelajari norma-norma sosial yang lebih luas. Di sekolah, anak belajar
disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan keterampilan sosial lainnya melalui
interaksi dengan teman sebaya dan guru.
Selain itu,
anak juga mempelajari pengetahuan akademis yang menambah wawasan mereka tentang
ilmu pengetahuan. Meski demikian, sekolah tidak dapat dianggap sebagai
lingkungan pertama dalam proses sosialisasi. Sebelum anak masuk ke sekolah, ia
sudah membawa nilai-nilai dasar yang diajarkan oleh keluarga.
(c. Teman Sepermainan)
Teman
sepermainan menjadi lingkungan yang penting dalam proses sosialisasi anak,
terutama dalam mengembangkan keterampilan sosial dan kemampuan beradaptasi
dengan orang lain. Ketika berinteraksi dengan teman sebaya, anak belajar
tentang kerja sama, kompetisi, dan bagaimana menyelesaikan konflik.
Pengaruh
teman sepermainan juga dapat membentuk pandangan anak terhadap dirinya sendiri,
namun interaksi terjadi setelah anak memiliki landasan karakter yang kuat dari
keluarga. Lingkungan teman sepermainan lebih banyak berperan dalam memperluas
pengaruh sosial dan membantu anak memahami dinamika kelompok.
(d. Media Massa)
Media massa
seperti televisi, internet, dan media sosial memiliki pengaruh terhadap proses
sosialisasi, terutama pada remaja dan orang dewasa muda. Melalui media,
seseorang dapat mengakses berbagai informasi tentang budaya, gaya hidup, hingga
nilai-nilai baru yang berbeda dari lingkungan keluarga atau sekolah.
Namun,
pengaruh media massa cenderung bersifat sekunder. Sebelum seseorang dapat
memilah dan menilai informasi dari media, mereka biasanya sudah dibekali dengan
nilai-nilai dasar dari keluarga dan pendidikan di
sekolah.
(e. Orang Tua)
Orang tua,
sebagai bagian dari keluarga, jelas berperan dalam proses sosialisasi awal.
Orang tua menjadi figur yang memberikan bimbingan langsung kepada anak-anak.
Orang tua bukan hanya mengajarkan cara berbicara dan bersikap, tetapi juga
menjadi teladan dalam bagaimana berinteraksi dengan dunia luar.
Meski
begitu, istilah “orang tua” dalam hal ini lebih sempit daripada “keluarga,”
yang mencakup semua anggota rumah tangga. Oleh karena itu, lingkungan keluarga
lebih tepat dipahami sebagai proses sosialisasi pertama dibandingkan hanya
orang tua saja.
Mengapa Keluarga yang Pertama ?
Sejak lahir
hingga masa awal kanak-kanak, anak hampir sepenuhnya bergantung pada keluarga.
Pada masa-masa ini, seseorang belum memiliki akses ke lingkungan sosial yang
lebih luas seperti sekolah atau media massa.
Orang tua
dan anggota keluarga lain menjadi sumber pertama pembelajaran, baik secara
langsung maupun melalui pengamatan. Oleh karena itu, nilai-nilai, sikap, dan
perilaku yang dipelajari dalam keluarga membentuk sifat dasar kepribadian
seseorang dan menjadi panduan dalam interaksi sosial berikutnya.
Berdasarkan
penjelasan diatas, disimpulkan bahwa lingkungan keluarga adalah tempat pertama
kali proses sosialisasi terbentuk. Di dalam keluarga, anak menerima nilai-nilai
dasar, belajar berkomunikasi, dan mengembangkan kepribadian awal yang akan
dibawa ke dalam interaksi sosial di kemudian hari.
Meskipun lingkungan lain seperti sekolah, teman sepermainan, media massa, dan orang tua juga berpengaruh dalam proses sosialisasi, pengaruh pertama dan paling kuat datang dari keluarga. Hal ini menegaskan bahwa keluarga memiliki peran yang tidak tergantikan dalam membentuk kepribadian dan kehidupan sosial seseorang.

