Maka titah baginda: "Baiklah esok pagi-pagi kita berburu"
Maka setelah keesokan harinya maka jaring dan jerat pun ditahan oranglah. Maka segala rakyat pun masuklah ke dalam hutan itu mengelanalah segala perburuan itu dari pagi-pagi sehingga datang melincir matahari, seekor perburuan tiada diperoleh. Maka baginda pun amat heranlah serta menitahkan menyuruh melepas anjing perburuan baginda sendiri itu.
Maka anjing itu pun dilepaskan oranglah. Hatta
ada sekira-kira dua jam lamanya maka berbunyilah suara anjing itu menyalak.
Maka baginda pun segera mendapatkan suara anak anjing itu. Setelah baginda
datang kepada suaru serokan tasik itu, maka baginda pun bertemu dengan segala
orang yang menurut anjing itu. Maka titah baginda: "Apa yang disalah oleh
anjing itu?"
Maka sembah
mereka sekalian itu: "Daulat tuanku, patik mohonkan ampun dan karunia. Ada
seekor pelanduk putih, besarnya seperti kambing, warna tubuhnya gilang
gemilang. Itulah yang dihambat anjing itu. Maka pelanduk itu lenyaplah pada
pantai ini."
Hal yang mustahil terungkap dalam kutipan hikayat tersebut adalah ...
a. Jaring
dan jerat ditahan orang
b. Perburuan
seekor pelanduk
c. Suara
anjing yang menyalak
d. Seekor
pelanduk putih besar
e. Pelanduk
yang lenyap
Jawaban: e. Pelanduk yang lenyap
Kutipan hikayat tersebut menceritakan tentang sebuah perburuan yang dilakukan oleh baginda dan rakyatnya. Baginda merasa heran karena tidak ada satupun hewan buruan yang berhasil ditangkap. Beliau kemudian memerintahkan untuk melepaskan anjing perburuannya.
Setelah beberapa lama, anjing tersebut mengeluarkan suara
menyalak dan mengantarkan baginda pada sekelompok orang. Ketika ditanya, mereka
mengatakan bahwa anjing itu mengejar seekor pelanduk putih yang besarnya
seperti kambing dan berwarna gilang gemilang. Pelanduk tersebut kemudian lenyap
di pantai.
Berdasarkan
uraian tersebut, mari kita analisis kemungkinan mustahil yang terjadi:
- a. jaring dan jerat ditahan
orang: Hal ini mungkin terjadi. Orang-orang yang memasang jaring dan jerat
mungkin saja sengaja menahannya agar tidak menangkap hewan buruan. Hal ini
bisa dilakukan dengan berbagai alasan, seperti untuk menjaga kelestarian
alam atau untuk menangkap hewan buruan yang lebih besar. Orang-orang yang
berburu mungkin memang sengaja menahan jaring dan jerat agar tidak ada
hewan yang terjebak sebelum baginda tiba.
- b. perburuan seekor pelanduk:
Pelanduk merupakan hewan buruan yang umum dijumpai di hutan. Kemungkinan
besar, raja dan rakyatnya memang berniat untuk memburu seekor pelanduk.
Perburuan merupakan aktivitas yang umum dilakukan pada masa itu, dan
pelanduk merupakan salah satu hewan buruan yang populer.
- c. suara anjing yang menyalak:
Hal ini mungkin terjadi. Anjing adalah hewan yang pandai berburu dan
memiliki indera pendengaran yang tajam. Ketika mereka mencium bau hewan
buruan, mereka akan menyalak untuk memberitahu tuannya. Anjing memang
dikenal sebagai hewan yang pandai berburu dan mengeluarkan suara menyalak
saat mengejar mangsa. Hal ini adalah hal yang wajar terjadi.
- d. seekor pelanduk putih besar:
Hal ini mungkin, namun kemungkinannya kecil. Pelanduk memang berwarna
putih, namun ukurannya tidak sebesar kambing. Kemungkinan besar, rakyat
raja hanya melihat sekilas dan mengira pelanduk tersebut besar. Keberadaan
pelanduk putih dengan ukuran besar memang jarang terjadi, tetapi bukan hal
yang mustahil. Bisa jadi, pelanduk tersebut memang memiliki ciri-ciri yang
unik dan berbeda dari pelanduk pada umumnya.
- e. pelanduk yang lenyap: Inilah
yang menjadi hal mustahil dalam kutipan hikayat diatas. Pelanduk merupakan
hewan darat, dan tidak mungkin lenyap di pantai. Kemungkinan besar,
pelanduk tersebut bersembunyi di balik pepohonan atau bebatuan di sekitar
pantai.
Berdasarkan
cerita hikayat di atas, kemungkinan kejadian yang mustahil dalam kutipan
hikayat tersebut adalah e. pelanduk yang lenyap. Hewan tidak bisa lenyap begitu
saja, dan kemungkinan besar pelanduk tersebut bersembunyi di suatu tempat di
sekitar danau.
Penting untuk dicatat bahwa hikayat merupakan sebuah karya sastra yang tidak selalu berdasarkan fakta nyata. Oleh karena itu, kemungkinan kejadian mustahil dalam hikayat tersebut tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.

