Situasi
politik yang dinamis menuntut kita untuk memahami peran dan fungsi presiden
dalam sistem pemerintahan parlementer. Berbeda dengan sistem presidensial di
mana presiden memegang kendali penuh sebagai kepala negara dan kepala
pemerintahan, presiden dalam sistem parlementer memiliki peran yang lebih
condong ke seremonial dan simbolis.
Presiden di
negara dengan sistem parlementer biasanya dipilih oleh parlemen, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Masa jabatan seorang presiden pun ditentukan.
Fokus utama presiden bukanlah menjalankan roda pemerintahan sehari-hari,
melainkan sebagai representasi negara di kancah internasional, pemersatu
bangsa, dan penjaga stabilitas politik.
Duduk Perkara Kepala Negara Simbolis di Panggung Dunia
Peran
presiden sebagai kepala negara simbolis terlihat jelas dalam tugas-tugas yang
diemban ketika mewakili negara di konferensi internasional. Maka presiden
berwenang untuk:
- Menerima tamu kenegaraan dan
delegasi asing. Bayangkan presiden sebagai tuan rumah yang ramah,
menyambut kunjungan pejabat tinggi dari negara lain untuk mempererat
hubungan bilateral.
- Melakukan kunjungan resmi ke
luar negeri untuk menjalin hubungan bilateral dan multilateral. Presiden
aktif berdiplomasi dengan negara lain, tak ubahnya seorang diplomat ulung,
untuk menjalin kerja sama dan persahabatan yang saling menguntungkan.
- Meratifikasi perjanjian
internasional dan mewakili negara dalam forum internasional. Presiden
memiliki otoritas untuk menyetujui perjanjian internasional yang telah
dirundingkan, dan menjadi juru bicara negara di berbagai wadah kerjasama
antar negara.
- Selain itu, sebagai simbol
persatuan bangsa, presiden kerap hadir dalam berbagai acara kenegaraan dan
seremonial penting. Kehadiran seorang presiden menunjukkan citra persatuan
dan identitas nasional, menguatkan rasa kebersamaan di tengah masyarakat
yang heterogen.
Pemersatu Bangsa Menjaga Stabilitas dan Kesatuan
Dalam
dinamika politik yang dinamis dan masyarakat yang beragam, presiden memiliki
peran sebagai pemersatu bangsa. Maka presiden diharapkan dapat:
- Menjaga stabilitas politik dan
keamanan negara. Presiden bertindak sebagai figur pemersatu yang mampu
meredam konflik dan ketegangan antar kelompok, memastikan negara berjalan
dengan aman dan tenteram.
- Menjadi penengah dalam konflik
dan perselisihan antar pihak. Ketika terjadi perselisihan politik atau
sosial, presiden diharapkan dapat menjadi mediator yang netral serta
bijaksana, mencari jalan keluar yang damai demi kepentingan bersama.
- Mempromosikan nilai-nilai
demokrasi, toleransi, dan persatuan bangsa. Presiden menjadi corong bagi
nilai-nilai luhur yang menjadi pondasi negara, senantiasa mengingatkan
pentingnya demokrasi, toleransi, dan semangat persatuan untuk kemajuan
bangsa.
- Presiden diharapkan dapat
menjadi figur yang netral dan objektif, melampaui kepentingan politik
sesaat, dan fokus pada kepentingan bangsa secara
menyeluruh. Ini tidak mudah, namun kepemimpinan yang berwibawa
dan berintegritas menjadi modal utama untuk menjalankan tugas seorang
presiden dengan baik.
Hubungan Presiden dengan Parlemen dan Perdana Menteri
Berbeda
dengan sistem presidensial, presiden dalam sistem parlementer tidak memiliki
kekuasaan eksekutif yang luas. Kekuasaan eksekutif dipegang oleh Perdana
Menteri dan kabinetnya, yang bertanggung jawab kepada parlemen. Presiden
berperan sebagai mitra kerja, bukan eksekutif tertinggi. Lalu, apa saja tugas
presiden dalam hal ini?
- Menunjuk Perdana Menteri
berdasarkan suara mayoritas di parlemen. Presiden biasanya menunjuk
pemimpin partai atau koalisi yang memiliki kursi terbanyak di parlemen
untuk menjadi Perdana Menteri.
- Mengangkat dan memberhentikan
menteri atas usulan Perdana Menteri. Presiden berperan menyetujui usulan
Perdana Menteri terkait susunan kabinet, namun keputusan akhir tetap
berada di tangan Perdana Menteri.
- Memberikan nasihat dan arahan
kepada Perdana Menteri dan kabinet. Presiden dapat memberikan masukan dan
arahan strategis kepada Perdana Menteri dan kabinetnya berdasarkan
pengalaman dan kebijaksanaan yang dimiliki.
- Presiden dan Perdana Menteri
bekerja sama erat dalam menjalankan roda pemerintahan. Presiden sebagai
penasihat dan pemberi arahan, sedangkan Perdana Menteri sebagai eksekutor
kebijakan. Hubungan yang harmonis dan saling pengertian antara keduanya
menjadi faktor berjalannya pemerintahan yang efektif.
Menjaga Demokrasi Keseimbangan Kekuasaan adalah Kuncinya
Sistem
parlementer dengan presiden sebagai kepala negara simbolis dan Perdana Menteri
sebagai kepala pemerintahan bertujuan untuk mencapai keseimbangan kekuasaan.
Mengapa ini penting?
- Memisahkan Kekuasaan: Sistem
parlementer memisahkan kekuasaan eksekutif (Perdana Menteri) dan
legislatif (parlemen). Pemisahan ini mencegah dominasi satu pihak dan
memastikan adanya kontrol.
- Meningkatkan Tanggungjawab:
Perdana Menteri dan kabinetnya bertanggung jawab kepada parlemen, sehingga
harus mempertanggungjawabkan kinerja kepada rakyat. Mekanisme ini
memastikan keterbukaan dan tanggungjawab dalam menjalankan roda
pemerintahan.
- Memperkuat Demokrasi: Sistem
parlementer diharapkan dapat mendorong dialog dan kompromi antar pihak,
serta memperkuat demokrasi di negara tersebut. Dengan adanya pemisahan
kekuasaan dan tanggungjawab yang jelas, diharapkan demokrasi dapat
berjalan dengan lebih sehat dan dinamis.
Meskipun perannya lebih seremonial dibandingkan dengan presiden dalam sistem presidensial, presiden dalam sistem parlementer memiliki peran krusial sebagai simbol persatuan bangsa dan perekat stabilitas politik. Kepemimpinan yang bijaksana, netral, dan berorientasi pada kepentingan rakyat menjadi faktor utama bagi presiden untuk menjalankan tugas dengan baik dan membawa kemajuan bagi bangsa.

