Paradigma
Positivisme menerapkan metode ilmiah yang ketat dan terstruktur, layaknya ilmu
alam, untuk mendapatkan pengetahuan yang objektif dan universal tentang
realitas sosial. Dengan kata lain, positivisme meyakini bahwa
realitas sosial itu ada "di luar sana" dan terpisah dari pengamat.
Melalui observasi dan eksperimen yang terkendali, kita dapat mengukur dan
memahami realitas tersebut.
Prinsip-prinsip
Positivisme:
- Penekanan pada Metode Ilmiah:
Penelitian yang baik harus mengikuti langkah-langkah yang sistematis,
seperti merumuskan hipotesis, mengumpulkan data melalui observasi atau
eksperimen terkontrol, menganalisis data secara objektif, dan menarik
kesimpulan. Pendekatan ini memastikan ketepatan dan penerapan penelitian.
- Objektivitas Peneliti: Paradigma
positvisme menuntut peneliti untuk melepaskan bias pribadinya dan berusaha
untuk melihat realitas sosial sebagaimana adanya. Penelitian yang objektif
akan menghasilkan pengetahuan yang dapat disamaratakan ke masyarakat yang
lebih luas. Misalnya, penelitian tentang efektivitas program pendidikan
baru harus mengesampingkan opini peneliti dan fokus pada data yang
dikumpulkan dari siswa dan guru.
- Empirisisme: Pengetahuan yang
valid, menurut positivisme, hanya berasal dari pengalaman indrawi.
Pengamatan dan pengukuran menjadi kunci utama untuk memahami realitas
sosial. Paradigma positivise menerapkan pentingnya data kuantitatif yang
dapat diukur secara numerik, seperti statistik atau hasil survei.
- Hukum-hukum Alamiah: Paradigma
positivisme percaya bahwa realitas sosial, sama seperti realitas alam,
mengikuti hukum-hukum alamiah yang dapat ditemukan melalui penelitian.
Misalnya, penelitian positivis mungkin menganalisa pola-pola migrasi
penduduk untuk mengungkap "hukum" yang mengatur pergerakan
manusia.
- Pencarian Generalisasi: Tujuan
utama penelitian positivis adalah untuk menemukan pola-pola umum dan
hubungan sebab-akibat yang dapat diterapkan ke masyarakat yang lebih luas.
Dengan mengetahui pola-pola tersebut, peneliti dapat membuat prediksi
tentang perilaku manusia di masa depan.
Kelebihan
Paradigma Positivisme:
- Sistematis dan Terstruktur:
Paradigma positivisme menyediakan kerangka kerja yang jelas dan
terstruktur untuk melakukan penelitian. Penelitian positivis umumnya mudah
diterapan oleh peneliti lain, sehingga memungkinkan untuk verifikasi
temuan.
- Objektivitas dan Keandalan:
Penekanan pada objektivitas dan metode ilmiah menghasilkan pengetahuan
yang dapat diandalkan dan bebas dari bias. Penelitian ini berguna untuk
membangun landasan pengetahuan yang paten dalam ilmu sosial.
- Fenomena Umum dan Terukur:
Paradigma positivisme sangat efektif untuk menjelaskan fenomena sosial
yang bersifat umum dan dapat diukur dengan mudah, seperti tingkat
kriminalitas, angka pengangguran, atau hubungan antara pendapatan dan
pendidikan.
Kekurangan
Paradigma Positivisme:
- Mengabaikan Subjektivitas:
Paradigma positivisme cenderung mengabaikan peran sudut pandang dan
pengalaman subjektif seseorang dalam penelitian sosial. Paradigma ini
berasumsi bahwa realitas sosial bersifat statis dan objektif, padahal
pengalaman dan interpretasi seseorang dapat mempengaruhi realitas yang
mereka alami.
- Realitas Dinamis dan Konteks:
Paradigma positivisme kurang memperhatikan aspek dinamis realitas sosial.
Realitas sosial bisa berubah seiring waktu dan dipengaruhi oleh konteks
tertentu. Penelitian positivis yang terlampau fokus pada kesamaan
terkadang mengabaikan ciri khas konteks tersebut.
- Kritik terhadap Generalisasi:
Paradigma positivisme seringkali terlalu menerapkan pada kesamaan umum.
Kritik terhadap positivisme berpendapat bahwa realitas sosial terlalu
beragam untuk dijelaskan hanya dengan pola-pola umum. Penelitian
kualitatif, yang muncul sebagai alternatif, lebih menerapkan pemahaman
mendalam terhadap pengalaman dan sudut pandang seseorang dalam situasi
tertentu.
Paradigma positivisme telah memberikan kontribusi yang besar dalam perkembangan ilmu sosial. Namun, keterbatasannya memunculkan aliran filsafat ilmu pengetahuan lain.
Penelitian saat ini sering menggabungkan pendekatan positivisme dengan pendekatan lain, seperti interpretivisme atau konstruktivisme, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih menyeluruh tentang realitas sosial.

