Sosiologis bukan merupakan cara berpikir sejarah

 


Berikut ini merupakan cara berpikir sejarah kecuali ...

 

a. Diakronik

b. Sinkronik

c. Kausalitas

d. Sosiologis

 

Jawaban: d. Sosiologis

 

Ilmu sejarah tidak hanya berkaitan dengan pencatatan peristiwa masa lalu, tetapi juga cara berpikir khusus agar peristiwa bersejarah dapat dipahami secara objektif, logis, dan ilmiah. Cara berpikir sejarah menjadi penting bagi sejarawan maupun pelajar sejarah dalam menafsirkan fakta, menyusun kronologi, serta menjelaskan suatu peristiwa masalalu.

 

Dalam kajian sejarah, terdapat beberapa cara berpikir yang membedakan sejarah dari ilmu sosial lain. Namun, tidak semua pendekatan dapat dikategorikan sebagai cara berpikir sejarah. Oleh karena itu, penting untuk memahami mana yang termasuk dan mana yang bukan.

 

Pertanyaan:

“Berikut ini merupakan cara berpikir sejarah kecuali …”

Jawaban yang tepat adalah d. Sosiologis.

 

Untuk memahami alasan jawaban tersebut, berikut pembahasan masing-masing pilihan jawaban.

 

1. Cara Berpikir Diakronik

Berpikir diakronik merupakan ciri paling utama dalam ilmu sejarah. Kata diakronik berasal dari bahasa Yunani dia (melalui) dan chronos (waktu). Cara berpikir ini menekankan pada proses, perkembangan, dan perubahan peristiwa dari waktu ke waktu.

 

Dalam pendekatan diakronik, suatu peristiwa tidak dipahami secara terpisah, melainkan sebagai bagian dari kejadian saling berkaitan. Sejarawan akan menelusuri awal terjadinya peristiwa, proses berlangsung, hingga akibat yang ditimbulkan di masa berikutnya.

 

Contoh adalah kajian tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia yang ditelusuri mulai dari masa penjajahan, pergerakan nasional, pendudukan Jepang, hingga proklamasi kemerdekaan. Semua tahapan waktu tersebut ditelusuri secara berurutan.

 

Karena sejarah selalu berkaitan dengan dimensi waktu, maka diakronik merupakan cara berpikir sejarah yang mutlak.

 




2. Cara Berpikir Sinkronik

Selain diakronik, sejarah juga menggunakan cara berpikir sinkronik. Sinkronik berarti mempelajari suatu peristiwa pada satu masa tertentu, tanpa terlalu menekankan perkembangan waktunya.

 

Pada pendekatan ini, sejarawan memusatkan perhatian pada berbagai aspek yang terjadi secara bersamaan, seperti kondisi sosial, ekonomi, politik, dan budaya dalam satu periode waktu tertentu.

 

Sebagai contoh, ketika mengkaji kondisi Indonesia pada masa awal kemerdekaan, pendekatan sinkronik digunakan untuk memahami:

  • Situasi politik pemerintahan
  • Kondisi ekonomi rakyat
  • Struktur sosial masyarakat
  • Hubungan internasional saat itu

 

Cara berpikir sinkronik membantu sejarah menjadi lebih akurat karena tidak hanya melihat “kapan” peristiwa terjadi, tetapi juga “bagaimana kondisi masyarakat” pada saat itu.

 

3. Cara Berpikir Kausalitas

Cara berpikir kausalitas berkaitan dengan hubungan sebab dan akibat. Sejarah tidak hanya mencatat peristiwa, tetapi juga berusaha menjelaskan mengapa peristiwa masa lalu terjadi dan apa dampaknya.

 

Melalui kausalitas, sejarawan meneliti faktor-faktor penyebab suatu peristiwa, baik yang bersifat jangka pendek maupun jangka panjang, serta akibat yang ditimbulkan bagi masyarakat dan negara.

 

Sebagai contoh:

  • Penjajahan menjadi sebab munculnya perlawanan rakyat
  • Proklamasi kemerdekaan menjadi sebab lahirnya negara Indonesia
  • Krisis ekonomi dapat menyebabkan perubahan sistem politik

 

Oleh karena itu, kausalitas merupakan bagian penting dari cara berpikir sejarah.

 

4. Sosiologis: Bukan Cara Berpikir Sejarah

Berbeda dengan pilihan sebelumnya, sosiologis bukanlah cara berpikir sejarah. Sosiologis merupakan pendekatan atau sudut pandang ilmu sosiologi, yaitu ilmu yang mempelajari hubungan sosial, struktur masyarakat, dan interaksi antarindividu.

 

Pendekatan sosiologis memang digunakan dalam kajian sejarah, misalnya untuk memahami kehidupan sosial masyarakat pada masa lampau. Namun, pendekatan ini ukan sebagai cara berpikir dasar sejarah. engan kata lain:

  • Diakronik, sinkronik, dan kausalitas → cara berpikir sejarah
  • Sosiologis → pendekatan ilmu sosial

Karena tidak termasuk pola berpikir khas sejarah, maka sosiologis menjadi jawaban yang tepat sebagai pengecualian.


LihatTutupKomentar