Hanya fokus pada orientasi kognitif dalam pembelajaran dapat menyebabkan ...

 

Hanya fokus pada orientasi kognitif dalam pembelajaran dapat menyebabkan ...

Hanya fokus pada orientasi kognitif dalam pembelajaran dapat menyebabkan ...

 

A. Murid malas belajar

B. Perkembangan kecakapan emosi dan sosial murid terabaikan

C. Murid tertekan untuk sekolah

D. Sistem penilaian tidak sesuai

 

Jawaban: B. Perkembangan kecakapan emosi dan sosial murid terabaikan

 

Dalam ranah pendidikan, fokus utama dalam pembelajaran tertuju pada pengembangan aspek kognitif murid. Kurikulum dirancang untuk mengasah kemampuan berpikir logis, daya nalar, penguasaan konsep, dan pemecahan masalah. Berbagai metode pengajaran dan sistem evaluasi didominasi oleh pengukuran kecerdasan intelektual, seolah-olah pembelajaran hanya berorientasi pada pencapaian akademik.

 

Ketika pembelajaran berorientasi pada aspek kognitif, murid hanya diajarkan untuk mempelajari data, fakta, dan rumus. Interaksi serta pengembangan kemampuan sosial tergeser oleh tuntutan untuk mencapai target nilai dan pemahaman materi.

 

 

Memahami Masalah Hanya fokus pada orientasi kognitif

Untuk memahami mengapa orientasi kognitif yang berlebihan dapat mengesampingkan aspek emosi dan sosial, maka perlu memahami masalahnya. 

Pertama 

tekanan dari berbagai pihak mulai dari orang tua, sekolah, hingga sistem pendidikan mengarahkan fokus pada hasil akademik yang terukur. Orang tua cenderung bangga dengan nilai rapor yang tinggi, sementara sekolah berlomba-lomba mencetak lulusan berprestasi akademik demi reputasi. Dalam hal ini, pengembangan kecakapan non-kognitif, yang tidak diukur dengan angka, menjadi terpinggirkan.

Kedua

adanya miskonsepsi bahwa kecerdasan kognitif secara otomatis akan membawa serta kecakapan emosional dan sosial. Seseorang bisa saja sangat cerdas secara intelektual, namun kesulitan dalam mengendalikan emosinya, berempati, atau membangun hubungan dengan orang lain. Daniel Goleman, dalam bukunya, Emotional Intelligence, menjelaskan bahwa kecerdasan emosional (EQ) justru menjadi indikator keberhasilan dalam kehidupan dibanding kecerdasan intelektual (IQ).

 Ketiga

keterbatasan kurikulum dan pelatihan guru juga turut mempengaruhi. Banyak kurikulum yang belum mengintegrasikan pengembangan kecakapan emosi dan sosial sebagai bagian dari proses belajar mengajar. Demikian pula, pelatihan guru lebih berfokus pada pedagogi yang meningkatkan hasil kognitif, ketimbang strategi untuk mengembangkan kecerdasan emosional dan sosial murid.

 

 

Perbandingan Pilihan Jawaban Lain

Untuk memahami mengapa "B. Perkembangan kecakapan emosi dan sosial murid terabaikan" adalah jawaban yang paling tepat dibandingkan pilihan jawaban lain, berikut penjelasan satu per satu:

 

A. Murid malas belajar

Meskipun orientasi kognitif yang berlebihan bisa menyebabkan tekanan dan mengurangi motivasi intrinsik, kemalasan belajar bukan konsekuensi langsung atau satu-satunya. Justru, ada murid yang terdorong untuk belajar demi mencapai target pembelajaran, meskipun dengan dampak negatif pada kesejahteraan emosional.

 

C. Murid tertekan untuk sekolah

Tekanan memang merupakan konsekuensi yang mungkin terjadi dan berkorelasi dengan pengabaian kecakapan emosi. Namun, "tertekan untuk sekolah" adalah konsekuensi yang lebih mendasar, yaitu kurangnya keseimbangan dalam pengembangan diri yang ditimbulkan oleh fokus pada aspek kognitif.

 

D. Sistem penilaian tidak sesuai

Sistem penilaian yang terlalu fokus pada kognitif memang bisa memperkuat orientasi kognitif berlebihan. Namun, sistem penilaian tidak sesuai adalah penyebab atau mekanisme dari masalah, bukan akibat dari orientasi kognitif yang berlebihan. Jika orientasi kognitif berlebihan, maka sistem penilaian yang sesuai pun akan tetap cenderung mengukur aspek kognitif, sehingga poin D menjadi kurang tepat sebagai akibat langsung.

 

 

Para pendidik, orang tua, dan pembuat kebijakan perlu menyadari bahwa pendidikan bukan hanya menyampaikan pengetahuan. Tetapi proses pembentukan siswa-siswi  yang mampu berpikir kritis, berempati, berkolaborasi, dan mengendalikan emosia dengan bijak. 


Hanya dengan keseimbangan, maka sebagai pengajar dapat mempersiapkan generasi mendatang untuk menghadapi kehidupan yang terus berkembang, bukan hanya sebagai murid yang cerdas, tetapi juga sebagai manusia yang berdaya dan berhati.

LihatTutupKomentar