Bagaimana cara membedakan berita baik dan berita palsu

 

Bagaimana cara membedakan berita baik dan berita palsu

Di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) secara rutin menemukan dan mengklarifikasi berbagai berita hoaks yang beredar di masyarakat. Fakta ini menunjukkan bahwa berita yang benar menjadi kebutuhan mendesak, terutama bagi pelajar dan generasi muda yang aktif mencari informasi.

 

Karakteristik Berita yang Baik dan Faktual

Berita yang baik tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memenuhi prinsip jurnalistik. Media profesional seperti Kompas, Tempo, BBC News, dan CNN Indonesia mempublikasikan berita melalui proses editorial yang ketat sebelum sebuah berita dipublikasikan. Beberapa ciri utama berita yang baik antara lain:

1. Memiliki Sumber yang Jelas

Berita faktual selalu mencantumkan sumber informasi. Misalnya, pernyataan pejabat disertai nama dan jabatan, atau data penelitian yang menyebutkan lembaga dan tahun penelitian.

2. Mengandung Data dan Fakta

Informasi didukung angka, hasil riset, atau dokumen resmi. Tidak hanya opini atau dugaan semata.

3. Bahasa Netral dan Objektif

Berita profesional tidak bertujuan memprovokasi pembaca. Bahasa yang digunakan cenderung formal, tidak emosional, dan tidak berlebihan.

4. Dapat Diverifikasi

Jika suatu peristiwa benar-benar terjadi, biasanya lebih dari satu media terpercaya akan memberitakannya. Konsistensi antar sumber menjadi indikator penting.

 

Karakteristik Berita Palsu atau Hoaks

Sebaliknya, berita palsu bisa dibuat dengan tujuan tertentu: memancing emosi, menyesatkan opini publik, atau bahkan mendapatkan keuntungan finansial melalui klik. Berikut ciri-cirinya:

1. Sumber Tidak Jelas

Berita hoaks sering berasal dari akun anonim, blog tidak dikenal, atau situs dengan alamat mencurigakan yang meniru media besar.

2. Judul Sensasional

Biasanya menggunakan huruf kapital berlebihan atau tanda seru seperti: “HEBOH!!!”, “VIRAL SEKARANG!!!”, atau “SEBARKAN SEBELUM DIHAPUS!!!”

3. Tidak Ada Data Pendukung

Isi berita lebih banyak berupa opini tanpa bukti konkret.

4. Manipulasi Gambar atau Video

Foto lama digunakan kembali untuk konteks berbeda, atau video dipotong sehingga menimbulkan kesalahpahaman.

5. Mengajak untuk Segera Menyebarkan

Kalimat seperti “Tolong viralkan!” menjadi tanda bahwa informasi tersebut patut dicurigai.

 


Mengapa Berita Hoaks Mudah Menyebar?

Berita hoaks disampaikan dengan memanfaatkan emosi manusia, rasa takut, marah, atau simpati. Secara psikologis, informasi yang menggugah emosi lebih cepat dibagikan dibandingkan informasi yang bersifat netral. Selain itu, rendahnya kebiasaan memverifikasi informasi membuat berita hoaks terus berulang.

 

Media sosial mempercepat proses ini. Algoritma platform cenderung menampilkan konten yang banyak mendapat interaksi, tanpa selalu menilai apakah konten tersebut benar atau tidak.

 

Langkah-Langkah Memverifikasi Informasi

Untuk menghindari penyebaran berita palsu, berikut langkah yang bisa dilakukan:

1. Periksa Sumbernya

Pastikan berita berasal dari media terpercaya. Cek juga alamat situs (URL). Situs palsu biasanya memiliki nama mirip dengan media resmi tetapi dengan sedikit perbedaan huruf.

2. Cek di Situs Pemeriksa Fakta

Indonesia memiliki platform pemeriksa fakta seperti TurnBackHoax yang dikelola oleh komunitas cek fakta. Kominfo juga menyediakan klarifikasi resmi terhadap hoaks yang beredar.

3. Bandingkan dengan Media Lain

Cari berita yang sama di mesin pencari. Jika hanya satu situs yang memuatnya, patut dicurigai.

4. Periksa Tanggal dan Konteks

Sering kali berita lama dibagikan kembali seolah-olah peristiwa baru.

5. Gunakan Akal Sehat

Jika informasi terdengar terlalu dramatis atau tidak masuk akal, berhentilah sejenak sebelum mempercayainya.

 

Kemampuan membedakan berita baik dan berita palsu merupakan bagian dari literasi digital yang harus dimiliki setiap orang. Sebelum mempercayai dan membagikan sebuah kabar, tanyakan pada diri sendiri:

 

  • Apakah sumbernya jelas?
  • Apakah ada data pendukung?
  • Apakah media terpercaya juga memberitakannya?

 

Dengan kebiasaan sederhana ini, kita tidak hanya melindungi diri sendiri dari informasi keliru, tetapi juga berkontribusi menciptakan informasi yang lebih bertanggung jawab.


LihatTutupKomentar